Abstrak
Pekerja mekanik unit Wheel & Brake Maintenance di PT. X, salah satu perusahaanMRO (Maintenance, Repair, Overhaul) pesawat terbang di Indonesia, berisikoterhadap MSDs atau gangguan otot rangka karena dibutuhkan pengangkatan bebanyang berat, postur janggal, dan gerakan repetitif dalam aktivitas kerjanya, tetapi daripenelitian ergonomi yang sudah ada di unit tersebut, belum ada penelitian yangmeneliti aspek psikososial sebagai salah satu faktor risiko gangguan otot rangka.Oleh karena itu, penelitian dengan studi cross sectional ini melakukan analisisfaktor fisik dan psikososial terhadap gejala gangguan otot rangka pada 44 pekerjamekanik yang melakukan aktivitas manual handling di unit Wheel & BrakeMaintenance PT. X pada bulan Januari - Juni 2017 dengan menggunakan metodeREBA, kuesioner yang diisi secara mandiri oleh pekerja, luxmeter, meteran, danNMQ. Hasil menunjukkan bahwa 52,2% aktivitas kerja di unit tersebut berisikosangat tinggi terhadap gangguan otot rangka. Gejala gangguan otot rangkaterbanyak terdapat pada punggung bawah (84,1%), bahu (72,7%), leher (63,5%),dan punggung atas (59,1%). Terdapat hubungan yang signifikan antara gejala padaleher dengan pekerja yang merokok (OR=3,960; 95% CI=1,069-14,671), gejalapada punggung atas dengan pekerja yang mengangkat 6-15 kg ³ 2 hari per minggu(OR=4,879; 95% CI=1,055-22,565) dan pekerja yang menggunakan perkakastangan yang bergetar ³ 1 jam per hari (OR=4,167; 95%CI=1,133-15,328), dangejala pada bahu dengan pekerja yang bekerja dalam posisi berlutut atau jongkok ³1 jam per hari (OR=5,111; 95% CI=1,128-21,279), sedangkan tidak ada hubunganyang signifikan antara faktor psikososial dengan gejala gangguan otot rangka. Jadi,simpulan dari hasil penelitian ini adalah perlu dilakukan perubahan dan intervensiuntuk mengurangi risiko terhadap gangguan otot rangka terutama pada faktor fisik,dengan memperhatikan juga pekerja yang merokok.
Kata Kunci: gejala gangguan otot rangka, mekanik MRO, manual handling,psikososial, REBA.