Abstrak
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan di dunia dengan Indonesia merupakan negara tertinggi di Asia Tenggara yang masih endemik DBD. Pada tahun 2022, terjadi peningkatan kasus DBD di Aceh dengan kematian tertinggi di kota Banda Aceh. Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSPUSK) merupakan rumah sakit tipe D di Aceh yang beroperasional sejak tahun 2012 hingga sekarang, dengan sebagian besar kunjungan pasien merupakan pasien JKN (98,5%) dan memberikan pelayanan rawat jalan (emergensi dan poliklinik), rawat inap dan penunjang. DBD merupakan penyakit tertinggi yang dirawat inap di RSPUSK sejak tahun 2016 hingga 2022, dengan perbandingan pembayaran klaim INACBGs lebih rendah yaitu sebesar 50% daripada besaran tagihan perawatan rumah sakit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh pada tahun 2022. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional digunakan dalam penelitian ini dengan sampel berupa total sampling dari data sekunder rekam medis RSPUSK tahun 2022 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil penelitian menemukan bahwa rata-rata tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 adalah sebesar Rp. 2.549.946. Faktor lama rawat / Lenght of Stay (LOS) berhubungan dengan tagihan perawatan DBD pasien JKN di RSPUSK Aceh tahun 2022 sedangkan faktor umur, jenis kelamin, kelas rawatan, Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) dan komorbid tidak berhubungan secara signifikan. Terdapat peluang efisiensi yang harus dilakukan di internal manajemen terkait dengan tata kelola pelayanan DBD yang dipicu oleh pemeriksaan laboratorium, radiologi, pemberian obat dan perilaku DPJP. Apabila hal ini bisa dikendalikan dengan baik maka overutilisasi dapat dikendalikan. Upaya yang dapat dilakukan berupa penyusunan struktur tarif rumah sakit berbasis unit cost; optimalisasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS); dan update Clinical Pathway yang dilanjutkan dengan sosialisasi, supervisi maupun monitoring evaluasi secara berkala sebagai upaya mengawal perilaku DPJP dan menjaga mutu layanan rumah sakit.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) still being a health problem in the world that Indonesia is the highest country in Southeast Asia where DHF is still endemic. In 2022, DHF cases increase in Aceh with the highest morbidity in Banda Aceh. The Syiah Kuala University Teaching Hospital (RSPUSK) is a type D hospital in Aceh which has been operating since 2012 until now, with the majority of patient visits are JKN patients (98.5%) and providing emergency, policlinic, inward hospitalization and another healthcare support services. DHF is the highest disease that was hospitalized at RSPUSK from 2016 to 2022, with INACBGs claim payments 50% lower than the amount of hospital bill. This study was conducted to determine the factors associated with DHF treatment bills for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022. The quantitative research method with a cross-sectional design was used in this study with the sample being the total sampling from secondary data from medical records at RSPUSK in 2022 which had fulfilled inclusion and exclusion criteria. The results of the study found that the average DHF treatment bill for JKN patients at the Aceh RSPUSK in 2022 was Rp. 2.549.946. Length of Stay (LOS) is a factor associated to DHF treatment bills for JKN patients at RSPUSK Aceh in 2022, while the factors of age, gender, class of treatment, medical specialist and comorbidities are not significantly associated. There are efficiency opportunities that must be carried out in internal management hospital related to DHF healthcare services which are triggered by laboratory tests, radiology, drug administration and medical specialist behavior. If this can be controlled properly then overutilization can be controlled well. Efforts that can be made are: calculating and forming the hospital tariff structure based on unit cost method; optimizing the Hospital Management Information System; and updating the Clinical Pathway which is followed by socialization, supervision and evaluation monitoring regularly as an effort to oversee the behavior of specialist and maintain the quality of hospital services.