Abstrak
Di Jakarta terdapat sebanyak 28,2% pekerja kantoran yang mengalami obesitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan konsumsi minuman berpemanis dan faktor lainnya dengan kejadian obesitas pada karyawan di dua kantor BUMN di Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel karyawan BUMN di Jakarta yang berjumlah 102 responden. Uji statistik yang digunakan pada uji bivariat menggunakan chi square dan uji multivariat menggunakan regresi logistik ganda model determinan. Hasil uji menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin (p-value: 0,98), usia, (p-value: 0,282) durasi kerja (p-value: 0,199), masa kerja (p-value: 0,081), asupan protein (p-value: 1,000), asupan lemak (p-value: 0,614), asupan energi (p-value: 1,000) dan aktivitas fisik (p-value: 1,000). Namun juga ditemukan terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi minuman berpemanis (p-value: 0,031) dan asupan karbohidrat (p-value: 0,019) dengan kejadian obesitas pada karyawan di dua kantor BUMN di Jakarta. Analisi multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan obesitas adalah konsumsi minuman berpemanis (OR: 0,353) Perlu ada perhatian dan perbaikan pola gizi seimbang dan meningkatkan asupan karbohidrat dengan pemilihan sumber asupan makanan yang berkualitas tinggi dan pemilihan minuman berpemanis dengan varian rendah gula atau tanpa gula.
In Jakarta, there are 28.2% of office workers who are obese. The purpose of this study was to determine the relationship of sugar-sweetened beverage consumption and other factors with the incidence of obesity in employees at two state-owned enterprises in Jakarta. This study used a cross-sectional study design with a sample of SOE employees in Jakarta totaling 102 respondents. Statistical tests used in bivariate tests used chi-square, and multivariate tests used multiple logistic regression of determinant models. The results showed that there was no significant relationship between gender (p-value: 0,98), age (p-value: 0,282), work duration (p-value: 0,199), tenure (p-value: 0,081), protein intake (p-value: 1,000), fat intake (p-value: 0,614), energy intake (p-value: 1,000), and physical activity (p-value: 1,000). However, there was also a significant association between ssb consumption (p-value: 0.031) and carbohydrate intake (p-value: 0.019) with the incidence of obesity among employees in two state-owned enterprises in Jakarta. Multivariate analysis showed that the dominant factor associated with obesity was consumption of sugar-sweetened beverages (OR: 0,353). There is a need to pay attention to and improve balanced nutrition patterns and increase carbohydrate intake by selecting high-quality food intake sources and selecting sugar-sweetened beverages with low or no sugar variants.