Abstrak

Infeksi daerah operasi (IDO) merupakan salah satu komplikasi pascaoperasi yang dapat menyebabkan peningkatan morbiditas, mortalitas, serta biaya perawatan. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional merupakan rumah sakit rujukan nasional dengan jumlah tindakan operasi bedah saraf yang tinggi sehingga perlu dilakukan evaluasi faktor risiko IDO. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian IDO pada pasien operasi bedah saraf di RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta tahun 2022–2024.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder dari rekam medis pasien operasi kranial. Sampel sebanyak 514 pasien diambil secara simple random sampling. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (menggunakan uji chi-square), dan multivariat (menggunakan regresi logistik).

Hasil: Insidens rate IDO selama tahun 2022–2024 sebesar 0,8%. Dua variabel yang terbukti signifikan secara statistik dalam model akhir adalah klasifikasi luka operasi dan reintervensi. Pasien dengan luka bersih-tercemar memiliki risiko 11,22 kali lebih tinggi mengalami IDO (OR: 11,22; 95% CI: 2,52–49,93; p = 0,001). Sementara itu, pasien yang mengalami lebih dari satu tindakan operasi memiliki risiko 5,11 kali lebih besar (OR: 5,11; 95% CI: 3,04–8,62; p < 0,001).

Kesimpulan: Klasifikasi luka operasi dan reintervensi merupakan faktor dominan yang meningkatkan risiko IDO. Rekomendasi diberikan untuk memperkuat strategi pencegahan infeksi terutama pada pasien dengan risiko tinggi.


Background: Surgical site infection (SSI) is a common postoperative complication associated with increased morbidity, mortality, and healthcare costs. As a national referral center, the National Brain Center Hospital performs a high number of neurosurgical procedures, necessitating an evaluation of the risk factors for SSI. Objective: To identify the factors associated with the incidence of SSI among neurosurgical patients at RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta from 2022 to 2024. Methods: This study employed a retrospective cohort design using secondary data from medical records of cranial surgery patients. A total of 514 samples were selected using simple random sampling. Data analysis included univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate analysis (logistic regression). Results: The incidence rate of SSI during 2022–2024 was 0.8%. Two variables showed statistically significant associations in the final model: surgical wound classification and reintervention. Patients with clean-contaminated wounds had a significantly higher risk of SSI (OR: 11.22; 95% CI: 2.52–49.93; p = 0.001). Patients undergoing more than one surgical procedure also had increased risk (OR: 5.11; 95% CI: 3.04–8.62; p < 0.001). Conclusion: Clean-contaminated wound classification and reintervention were the dominant factors increasing SSI risk. Preventive strategies must be strengthened for high-risk surgical patients.