Abstrak
Layanan kesehatan jiwa, khususnya konsultasi psikolog, memegang peran krusial dalam mengatasi beban masalah jiwa yang signifikan, namun aksesibilitasnya masih terbatas salah satunya oleh kendala biaya. Penelitian ini menganalisis kesediaan membayar (Willingness to Pay – WTP) pengguna layanan Psylution untuk konsultasi psikolog menggunakan Discrete Choice Experiment (DCE). WTP dipahami sebagai harga maksimal yang bersedia dibayarkan konsumen di pasar jasa kesehatan yang heterogen, dengan mempertimbangkan preferensi atribut layanan. Studi kuantitatif cross-sectional ini melibatkan 135 responden, didominasi perempuan (89,63%) usia dewasa muda (rata-rata 23,9 tahun), mayoritas mahasiswa/pelajar (40,74%), dan 74,81% tergolong Gangguan Mental Emosional (GME). Hasil menunjukkan metode konsultasi, pengalaman psikolog, dan biaya adalah atribut signifikan yang memengaruhi pilihan. Metode tatap muka sangat disukai (WTP +Rp157.570), sedangkan metode chat sangat ditolak (WTP -Rp152.080). Psikolog berpengalaman lebih dihargai (WTP untuk 2-5 tahun: +Rp69.490; >5 tahun: +Rp69.280). WTP dipengaruhi oleh status pekerjaan (terutama mahasiswa/pelajar yang memiliki WTP total lebih tinggi), pendapatan, tingkat pendidikan, dan skor status kesehatan jiwa. Implikasinya, terdapat demand tinggi pada kelompok tertentu (misalnya mahasiswa) meski potensi pendapatan terbatas, yang memicu saran diferensiasi harga dan evaluasi ulang format layanan bagi Psylution. Bagi pemangku kebijakan, hasil ini menjadi dasar advokasi untuk merumuskan strategi dan pembiayaan yang lebih efektif guna meningkatkan aksesibilitas layanan psikolog.
Mental health services, particularly psychologist consultations, play a crucial role in addressing the significant burden of mental health problems, yet their accessibility is limited by cost barriers. This study analyzes the Willingness to Pay (WTP) of Psylution service users for psychologist consultations using a Discrete Choice Experiment (DCE). WTP is the maximum price consumers are willing to pay in a heterogeneous healthcare service market, considering service attribute preferences. This quantitative cross-sectional study involved 135 respondents, predominantly female (89.63%) and young adults (average 23.9 years), mostly students (40.74%), with 74.81% categorized with Emotional Mental Disorders (EMD). Results show that face-to-face consultation was highly preferred (WTP +IDR 157,570), while the chat method was strongly rejected (WTP -IDR 152,080). Experienced psychologists were valued higher (WTP for 2-5 years: +IDR 69,490; >5 years: +IDR 69,280). WTP was influenced by occupation (especially students who exhibited higher total WTP), income, education level, and mental health status score. Implications include high demand in specific groups (e.g., students) despite limited income potential, prompting suggestions for price differentiation and re-evaluation of service formats for Psylution. For policymakers, these findings serve as a basis for advocating more effective strategies and financing to enhance the accessibility of psychologist services.