Abstrak
Stunting saat balita dapat memiliki dampak jangka panjang berupa perubahan permanen dalam metabolisme tubuh, termasuk dalam cara tubuh mengelola glukosa dan insulin, yang berakibat pada risiko diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan stunting saat balita terhadap kejadian diabetes melitus saat dewasa muda di Indonesia berdasarkan analisis data Indonesia Family Life Survey tahun 1993 dan 2014. Desain penelitian adalah kohort retrospektif. Terdapat 239 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression. Hasil penelitian menunjukkan proporsi kejadian diabetes melitus saat dewasa muda usia 23-26 tahun di Indonesia tahun 2014 adalah sebesar 3,35% dan proporsi kejadian stunting saat balita usia 2-5 tahun di Indonesia tahun 1993 adalah sebesar 47,28%. Pada analisis multivariat didapatkan stunting saat balita berisiko 1,17 (95% CI 0,29-4,71) kali lebih besar mengalami diabetes melitus saat dewasa muda dibandingkan dengan yang tidak stunting saat balita setelah dikontrol oleh variabel obesitas dan aktivitas fisik. Akan tetapi, hubungan ini tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Perlu adanya peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan sensitif dengan fokus pada pemenuhan gizi ibu hamil dan balita selama 1000 hari pertama kehidupan serta peningkatan skrining aktif penyakit tidak menular sejak dini.

Stunting in early childhood can have long-term effects, including permanent changes in body metabolism, particularly in glucose and insulin regulation, which may increase the risk of diabetes mellitus. This study aimed to examine the association between stunting in early childhood and the incidence of diabetes mellitus in young adulthood in Indonesia, using data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) in 1993 and 2014. A retrospective cohort design was used, involving 239 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Data analysis was performed using Cox regression. The results showed that the proportion of diabetes mellitus among young adults aged 23-26 in 2014 was 3,35%, while the proportion of stunting among children aged 2-5 in 1993 was 47,28%. Multivariate analysis indicated that those who were stunted in early childhood had a 1,17 times higher risk (95% CI : 0,29-4,71) of developing diabetes mellitus in young adulthood, after adjusting for obesity and physical activity. However, this association was not statistically significant (p>0,05). Strengthening both specific and sensitive interventions focused on maternal and child nutrition during the first 1,000 days of life and enhancing early screening for non-communicable diseases is recommended.