Abstrak
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. Pengobatan TBC merupakan salah satu bentuk dari pengendalian dan penanggulangan penyakit TBC. Pengobatan TBC bertujuan untuk menyembuhkan pasien dan mencegah kematian/kecatatan akibat TBC serta menurunkan risiko penularan TBC. Pada tahun 2023 Kota Jakarta Selatan menjadi kota dengan urutan ketiga dalam penemuan kasus TBC SO di Provinsi DKI Jakarta. Angka Penemuan Kasus sebesar 11.278 kasus (99% dari estimasi 11.411 kasus). Namun angka penemuan kasus yang tinggi belum sejalan dengan Angka keberhasilan pengobatan TBC. Angka Keberhasilan pengobatan TBC dari kasus yang ditemukan dan diobati belum mencapai target nasional yaitu 80,89%. Penelitian ini bertujuan gambaran masalah serta faktor yang memengaruhi keberhasilan pengobatan pada pasien TBC di Kota Jakarta Selatan Tahun 2023menggunakan desain kohort retrospektif. Variabel yang dianalisis meliputi Usia, jenis kelamin, status pekerjaan, riwayat pengobatan sebelumnya, Status HIV, Komorbid DM, Paduan OAT dan jenis fasilitas Kesehatan. Dari 4542 pasien yang dianalisis, 65% berhasil dalam pengobatan TBC SO, probabilitas survival kumulatif di akhir pengamatan sebesar 4,36% dan median survival keseluruhan 6 bulan. Dua variabel yang menjadi prediktor keberhasilan pengobatan TBC SO adalah jenis fasilitas kesehatan dan komorbid DM. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkuat pelaksanaan program pengendalian TBC, khususnya dalam pengelolaan pasien dengan komorbiditas seperti diabetes melitus. Temuan yang diperoleh juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya yang bertujuan mengeksplorasi lebih dalam hubungan antara penyakit penyerta dan keberhasilan pengobatan TBC, serta mendorong integrasi layanan kesehatan yang lebih efektif.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem globally, including in Indonesia. TB treatment is a key component of TB control and elimination efforts, aiming to cure patients, prevent death or disability due to TB, and reduce the risk of transmission. In 2023, South Jakarta ranked third in the number of drug-sensitive TB (DS-TB) case detections in DKI Jakarta Province, with a total of 11,278 cases detected (99% of the estimated 11,411 cases). However, the high case detection rate has not been matched by the treatment success rate. The treatment success rate among those who were diagnosed and treated has not yet reached the national target, standing at only 80.89%.This study aims to provide an overview of the problem and identify factors influencing treatment success among TB patients in South Jakarta in 2023, using a retrospective cohort design. Variables analyzed included age, sex, employment status, history of previous treatment, HIV status, comorbid diabetes mellitus (DM), type of anti-TB drug regimen, and type of health facility. Among the 4,542 patients analyzed, 65% successfully completed TB treatment, with a cumulative survival probability at the end of follow-up of 4.36%, and a median overall survival of 6 months. Two variables were identified as significant predictors of TB treatment success: type of health facility and comorbid diabetes mellitus. The findings of this study are expected to contribute to strengthening TB control programs, particularly in the management of patients with comorbidities such as diabetes mellitus. Furthermore, these results may serve as a reference for future research exploring the relationship between comorbid conditions and TB treatment outcomes, as well as supporting the integration of more effective health services.