Abstrak
Gangguan kesehatan mental di DKI Jakarta memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia, mencapai 24,3%, dengan tingkat ketidakpatuhan pengobatan sebesar 51%. Penelitian ini  dilakukan di RS Soeharto Heerdjan sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama untuk penanganan masalah kesehatan mental di wilayah ini. Dengan tujuan untuk menganalisis determinan kepatuhan pengobatan dengan lima dimensi WHO. Studi kuantitatif ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner. Sebanyak 100 pasien rawat jalan yang berusia di atas 18 tahun dipilih secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan pada periode Februari hingga April 2025. Analisis data dilakukan dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52% responden memiliki kepatuhan baik terhadap pengobatan, dengan nilai rata-rata kepatuhan sebesar 80,36, yang dapat disimpulkan sebagai hasil yang baik. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa kesadaran dan sikap terkait penyakit (p=0,033) serta persepsi terhadap peran apoteker/petugas penyerah obat (p=0,005; adjusted OR = 4,49; 95% CI: 1,57–12,86) berhubungan secara signifikan dengan tingkat kepatuhan pengobatan. Variabel yang paling dominan adalah persepsi peran apoteker, di mana pasien dengan persepsi yang kurang baik berisiko 4,49 kali lebih tinggi untuk memiliki kepatuhan buruk dibandingkan mereka yang memiliki persepsi baik (aOR=4,49; 95% CI 1,57-12,86). R-Square penelitian adalah 0,191, yang berarti variabel kesadaran dan sikap terkait penyakit dan persepsi peran apoteker menjelaskan 19,1% variasi kepatuhan pengobatan. Karena itu, perlu peningkatan program komunikasi kepada apoteker untuk memberikan edukasi yang jelas dan mudah dimengerti kepada pasien, termasuk kolaborasi dengan dokter dalam menerangkan manfaat dan efek samping obat.


Mental health disorders in DKI Jakarta have the highest prevalence in Indonesia, reaching 24.3%, with a medication non-adherence rate of 51%. This study was conducted at Soeharto Heerdjan Hospital, one of the main referral hospitals for mental health services in the region. The aim of the study was to analyze the determinants of medication adherence based on the five dimensions of the WHO adherence framework. This quantitative study employed a cross-sectional approach. Data were collected through interviews using a structured questionnaire. A total of 100 outpatient participants aged over 18 years were selected using purposive sampling. The study was conducted from February to April 2025. Data analysis was performed using multiple logistic regression. Results showed that 52% of respondents demonstrated good adherence to medication, with a mean adherence score of 80.36, indicating a generally good outcome. Logistic regression analysis revealed that awareness and attitude toward the illness (p=0.033) and perception of the role of pharmacists/dispensing officers (p=0.005; adjusted OR = 4.49; 95% CI: 1.57–12.86) were significantly associated with medication adherence. The most dominant variable was the perception of the pharmacist’s role, where patients with poor perception were 4.49 times more likely to have poor adherence compared to those with good perception (aOR = 4.49; 95% CI: 1.57–12.86). The study’s R-squared value was 0.191, indicating that awareness and attitude toward illness and perception of the pharmacist’s role explained 19.1% of the variance in medication adherence. Therefore, it is essential to enhance communication programs for pharmacists to deliver clear and understandable education to patients, including collaboration with physicians in explaining medication benefits and side effects.