Abstrak
Kekurangan gizi pada anak merupakan masalah yang sangat penting di Indonesia, misalnya seperti berat badan rendah, anak sangat kurus, dan stunting (UNICEF, 2020b). Masalah stunting adalah akumulasi dari masalah gizi lainnya dan harus segera ditangani. Prevalensi stunting di Indonesia paling banyak terjadi pada masyarakat miskin, yang memengaruhi sekitar 50 juta orang (Susenas BPS, 2023). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tanjung Priok Jakarta Utara. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional. Variabel independen pada penelitian ini adalah pendidikan ayah dan ibu, pengetahuan gizi ibu, pekerjaan ayah dan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, biaya konsumsi makanan anak per hari, biaya konsumsi protein hewani per hari, dan biaya konsumsi susu per hari. Analisis data menggunakan chi-square, man-whitney, dan regresi logistik biner. Hasil penelitian ini menunjukkan, kejadian stunting tidak berhubungan signifikan dengan pendidikan ayah dan ibu, pengetahuan gizi ibu, pekerjaan ayah dan ibu, jumlah anggota keluarga, dan biaya konsumsi susu per hari. Sedangkan, variabel pendapatan keluarga, biaya konsumsi makanan anak per hari, dan biaya konsumsi protein hewani per hari berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Variabel yang paling berhubungan terhadap kejadian stunting pada penelitian ini adalah variabel biaya konsumsi makanan anak.


Malnutrition in children is a critical issue in Indonesia, manifesting as low birth weight, severely underweight children, and stunting (UNICEF, 2020b). Stunting is a cumulative result of other nutritional problems and requires immediate attention. The highest prevalence of stunting in Indonesia occurs among the poor, affecting approximately 50 million people (Susenas BPS, 2023). This study aimed to determine the relationship between socioeconomic factors and the incidence of stunting in children aged 24-59 months in Tanjung Priok District, North Jakarta. This was a quantitative study employing a cross-sectional design. The independent variables in this study included paternal and maternal education, maternal nutrition knowledge, paternal and maternal occupation, family income, number of family members, daily child food consumption costs, daily animal protein consumption costs, and daily milk consumption costs. Data analysis utilized chi-square tests, Mann-Whitney U tests, and binary logistic regression method. This study found that the incidence of stunting was not significantly associated with paternal and maternal education, maternal nutrition knowledge, paternal and maternal occupation, the number of family members, or daily milk consumption costs. In contrast, family income, daily child food consumption costs, and daily animal protein consumption costs were significantly associated with the incidence of stunting. Among these variables, daily child food consumption costs was the most strongly associated with the incidence of stunting.