Abstrak
Indonesia merupakan negara dengan beban penyakit Tuberkulosis terbesar kedua di Dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir dengan penderitanya didominasi oleh usia pekerja/produktif (15–64 tahun). Kementerian Ketenagkerjaan memberikan respon dengan menginisiasi Program Skrining Mandiri Tuberkulosis di Tempat Kerja guna memperkuat deteksi dini pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menggambarkan distribusi hasil skrining berupa persebaran status terduga dan gambaran faktor risiko individu serta meninjau implementasi program dan mekanisme tindak lanjutnya menggunakan pendekatan studi mixed methods. Komponen kuantitatif menggunakan desain potong lintang memanfaatkan data sekunder Formulir Skrining Mandiri Tuberkulosis 2025 yang dianalisis secara deskriptif disertai analisis lanjutan. Komponen kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam kepada pemangku kebijakan dan perwakilan sektor perusahaan menggunakan purposive sampling. Dari 36.115 pekerja yang mengikuti skrining, sebanyak 6.566 (18,2%) terklasifikasi sebagai terduga Tuberkulosis. Penentuan status terduga didasarkan pada gejala klinis yang merujuk pada Tuberkulosis seperti batuk, demam hilang timbul, atau batuk disertai darah. Gejala dominan pada kelompok terduga adalah batuk (64,2%) dan penurunan berat badan (31,1%). Analisis bivariat menunjukkan kemungkinan terduga Tuberkulosis lebih tinggi pada pekerja laki-laki (OR: 1,49; 95% CI: 1,38–1,60), pekerja dengan riwayat Diabetes Mellitus (OR: 4,46; 95% CI: 3,58–5,59), status gizi kurus (OR: 2,61; 95% CI: 2,24–3,05), perokok aktif (OR: 1,81; 95% CI: 1,72–1,91)), serta sektor berisiko tinggi (OR: 1,25; 95% CI: 1,17–1,35) seperti pertambangan penggalian dan konstruksi. Temuan kualitatif mengindikasikan bahwa pelaksanaan program masih menghadapi kendala integrasi lintas sektor, keterbatasan anggaran dan sumber daya, serta kualitas instrumen dan sistem informasi. Studi ini mengindikasikan diperlukan adanya perbaikan dari sisi implementasi guna memaksimalkan hasil skrining serta pelaksanaan program kedepannya.
Indonesia is the world’s second-highest tuberculosis (TB) burden country according to the WHO Global Report 2025, with most patients in the working age population (15–64 years). In response, the Ministry of Manpower initiated a workplace TB self-screening program to strengthen early detection among workers. This study aimed to describe the distribution of screening outcomes, including the prevalence of presumptive TB and individual risk factors, and to assess program implementation also the follow up mechanisms using a mixed-methods approach. The quantitative component employed a cross sectional design using secondary data from the 2025 TB Self-Screening Form, analyzed with univariate statistics and additional analyses. The qualitative component comprised indepth interviews with policymakers and company representatives selected through purposive sampling. Among 36,115 screened workers, 6,566 (18.2%) were classified as presumptive TB. The most common symptoms among presumptive cases were cough (64.2%) and unintentional weight loss (31.1%). Bivariate analysis showed higher odds of presumptive TB among male workers (OR 1.49; 95% CI 1.38–1.60), those with a history of Diabetes Mellitus (OR 4.46; 95% CI 3.58–5.59), underweight workers (OR 2.61; 95% CI 2.24–3.05), current smokers (OR 1.81; 95% CI 1.72–1.91), and workers in high risk sectors (OR 1.25; 95% CI 1.17–1.35). Qualitative findings indicated challenges in cross-sector integration, limited funding and resources, and weaknesses in the screening instrument and information systems, suggesting the need for implementation improvements to optimize screening outcomes and future program phases.