Abstrak
Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara ke Provinsi Kalimantan Timur membawa implikasi strategis terhadap peningkatan kebutuhan dan kompleksitas layanan kesehatan di wilayah penyangga, khususnya Kota Balikpapan, Kota Samarinda, dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kondisi ini menuntut kesiapan rumah sakit di wilayah penyangga untuk merespons peningkatan permintaan layanan sekaligus menghadapi dinamika persaingan dengan fasilitas kesehatan yang dikembangkan di kawasan inti IKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons strategi rumah sakit di wilayah penyangga IKN melalui penilaian faktor internal dan eksternal serta perumusan strategi respons yang adaptif terhadap dinamika pembangunan IKN Nusantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan melalui penyusunan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), serta pemetaan posisi strategis menggunakan matriks Internal–External (IE). Selanjutnya, analisis kualitatif dilakukan melalui metode SWOT yang dikombinasikan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan rumah sakit secara objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo, dan RSUD Aji Muhammad Parikesit berada pada posisi strategis Grow and Build, yang mengindikasikan peluang pengembangan dan penguatan layanan. Nilai IFE tertinggi diperoleh RSUD Aji Muhammad Parikesit (3,93), diikuti RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (3,41) dan RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3,16), sementara nilai EFE tertinggi dimiliki oleh RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3,75). Sintesis analisis SWOT–AHP menetapkan tiga prioritas utama strategi pengembangan rumah sakit, yaitu penguatan integrasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan Otorita IKN, pengembangan layanan spesialis unggulan berbasis kebutuhan pasar, serta diversifikasi sumber pendapatan untuk menjamin keberlanjutan finansial rumah sakit. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa rumah sakit di wilayah penyangga IKN memiliki kapasitas pertumbuhan yang kuat untuk mendukung sistem rujukan kesehatan IKN Nusantara. Namun, optimalisasi peran tersebut memerlukan penguatan tata kelola kolaboratif, pengembangan layanan unggulan yang terarah, serta strategi pembiayaan yang berkelanjutan agar rumah sakit mampu berperan sebagai bagian integral dari ekosistem pelayanan kesehatan nasional.

The relocation of Indonesia’s National Capital (IKN Nusantara) to East Kalimantan Province has significant strategic implications for the increasing demand and complexity of healthcare services in the surrounding buffer regions, particularly Balikpapan City, Samarinda City, and Kutai Kartanegara Regency. This transformation requires hospitals in the buffer zones to enhance their readiness in responding to rising service demand while simultaneously facing potential competition from newly developed healthcare facilities in the core IKN area. This study aims to analyze hospital strategic respons in the IKN buffer regions through an assessment of internal and external factors and the formulation of adaptive strategic responses to the dynamics of IKN Nusantara development. This study employed a mixed-methods approach integrating quantitative and qualitative analyses. The quantitative analysis involved the construction of Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) matrices, followed by strategic position mapping using the Internal–External (IE) matrix. Subsequently, qualitative analysis was conducted using the SWOT framework combined with the Analytical Hierarchy Process (AHP) to objectively determine priority development strategies.  The results indicate that RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo, and RSUD Aji Muhammad Parikesit are positioned in the Grow and Build quadrant, reflecting strong opportunities for service expansion and institutional strengthening. The highest IFE score was obtained by RSUD Aji Muhammad Parikesit (3.93), followed by RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo (3.41) and RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3.16), while the highest EFE score was achieved by RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (3.75). The synthesis of SWOT–AHP analysis identified three primary strategic priorities for hospital development: strengthening integration and collaboration with local governments and the IKN Authority, developing market-responsive specialized healthcare services, and diversifying revenue sources to ensure financial sustainability. The study concludes that hospitals in the IKN buffer regions possess strong growth potential to support the IKN Nusantara healthcare referral system. However, optimizing this role requires continuous enhancement of collaborative governance, focused development of specialized services, and sustainable financing strategies to enable hospitals to function as integral components of Indonesia’s national healthcare ecosystem.