Abstrak
Transformasi sumber daya manusia kesehatan di Indonesia didorong oleh keterbatasan jumlah serta ketidakmerataan distribusi dokter umum dan spesialis. Sebagai respons, Kementerian Kesehatan mengembangkan Program Pendidikan Dokter Spesialis berbasis rumah sakit melalui Rumah Sakit Penyelenggara Pendidikan Utama (PPDS RSPPU). RSPON ditunjuk sebagai penyelenggara PPDS Neurologi dan diproyeksikan menyelenggarakan PPDS Bedah Saraf sehingga memerlukan perubahan organisasi yang menyeluruh, termasuk kesiapan anggotanya dalam menerima dan menjalankan sistem baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada Mei – Juni 2025 terhadap delapan informan internal dan dua eksternal RSPON yang terlibat dalam persiapan penyelenggaraan PPDS RSPPU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPDS RSPPU Bedah Saraf sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 tahun 2025 serta memperoleh akreditasi dari Accreditation Council of Graduate Medical Education (ACGME). Komitmen perubahan anggota organisasi mengarah positif, dengan adanya komitmen afektif berupa keterikatan emosional dan kemauan terlibat, komitmen keberlanjutan melalui kesadaran potensi kerugian apabila tidak terlibat, serta komitmen normatif melalui pemahaman tanggung jawab peran baru. Efikasi perubahan cukup kuat ditunjukkan oleh didukung pemahaman tujuan dan kesiapan sumber daya. Faktor kontekstual dan valensi perubahan menunjukkan kecenderungan positif, sementara penilaian informasional belum sepenuhnya kuat akibat belum optimalnya pengelolaan beban kerja secara formal dan keterbatasan teknologi pendukung. Temuan ini mengindikasikan bahwa kesiapan perubahan RSPON berada pada kondisi yang relatif mendukung, meskipun masih diperlukan penguatan sistem dan sumber daya tertentu. Secara umum, kesiapan perubahan RSPON tergolong kondusif menuju penyelenggaraan PPDS RSPPU Bedah Saraf, dengan rekomendasi peningkatan pada aspek informasi dan sistem teknologi organisasi.
The insuf icient number and unequal distribution of general practitioners and medical specialists drive the transformation of the health workforce in Indonesia. To adress this issue, the Ministry of Health has implemented a hospital-based Specialist Medical Education Program through Main Teaching Hospitals (PDS RSPU). The National Brain Center Hospital (RSPON) has been designated to host the Neurology Residency Program and is projected to establish a Neurosurgery Residency Program. This initiative requires comprehensive organizational transformation, including member readiness to adopt and implement the new system. This study employed a qualitative approach using an exploratory case study design. Primary data were collected through in-depth interviews conducted between May and June 2025 with eight internal and two external informants involved in preparing the Neurosurgery Residency Program. The results indicate that the Neurosurgery Residency Program has met the National Education Standards as stipulated in the Minister of Higher Education, Science, and Technology Regulation No. 39 of 2025 and has been accredited by the Accreditation Council of Graduate Medical Education (ACGME). Organizational change commitment showed a positive direction through af ective commitment (emotional attachment and willingness to engage), continuance commitment (awareness of potential loss if disengaged), and normative commitment (recognition of new role responsibilities). Change ef icacy was relatively strong, supported by clear program objectives and resource readiness. However, informational assessment remains suboptimal due to unstructured workload management and limited technological support. Overall, RSPON’s readiness for change is relatively conducive to implementing the RSPU Neurosurgery Program, with recommendations to strengthen informational systems and organizational technology.