Abstrak
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam industri manufaktur yang memiliki risiko kecelakaan kerja tinggi. Perilaku tidak aman masih menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja, sehingga implementasi program K3 yang efektif diperlukan untuk membentuk Perilaku Safety pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara implementasi program K3 dengan Perilaku Safety pekerja di PT X Kabupaten Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan metode purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur implementasi program K3 berdasarkan tujuh elemen inti Occupational Safety and Health Administration (OSHA 3885), yaitu kepemimpinan manajemen, partisipasi pekerja, identifikasi dan penilaian bahaya, pencegahan dan pengendalian bahaya, pendidikan dan pelatihan, evaluasi dan perbaikan program, serta komunikasi dan koordinasi. Perilaku Safety diukur melalui dimensi safety compliance dan safety participation. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman untuk Implementasi Program K3 berdasarkan OSHA 3885 dan Chi-Square untuk Karakteristik Pekerja. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara implementasi program K3 dengan Perilaku Safety kerja pekerja (ρ = 0,743; p < 0,001). Seluruh elemen implementasi program K3 juga menunjukkan hubungan yang kuat dan signifikan dengan Perilaku Safety kerja, meliputi kepemimpinan manajemen (ρ = 0,685; p < 0,001), partisipasi pekerja (ρ = 0,640; p < 0,001), identifikasi dan penilaian bahaya (ρ = 0,696; p < 0,001), pencegahan dan pengendalian bahaya (ρ = 0,662; p < 0,001), pendidikan dan pelatihan (ρ = 0,710; p < 0,001), serta evaluasi dan perbaikan program (ρ = 0,714; p < 0,001). Sementara itu, hasil uji statistik pada variabel karakteristik pekerja menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, masa kerja, maupun pengalaman kerja terhadap Perilaku Safety kerja (p > 0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi program K3 yang baik berhubungan erat dengan peningkatan Perilaku Safety pekerja, terlepas dari latar belakang demografis individu tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem manajemen K3 di PT X telah berhasil menstandarisasi Perilaku Safety di seluruh lapisan pekerja. Oleh karena itu, penguatan komitmen manajemen, peningkatan partisipasi pekerja, serta pelaksanaan pelatihan dan evaluasi program K3 secara berkelanjutan perlu terus dilakukan guna membangun budaya keselamatan kerja yang efektif dan berkelanjutan.

Occupational Health and Safety (OHS) is a crucial aspect of the manufacturing industry, which is characterized by a high risk of workplace accidents. Unsafe behavior remains a major contributing factor to occupational accidents; therefore, the effective implementation of OHS programs is essential to promote workers’ Perilaku Safety. This study aimed to analyze the relationship between the implementation of OHS programs and workers’ Perilaku Safety at PT X, Bekasi Regency. A quantitative research design with a cross-sectional approach was employed. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data were collected using a questionnaire measuring the implementation of OHS programs based on the seven core elements of the Occupational Safety and Health Administration (OSHA 3885), namely management leadership, worker participation, hazard identification and assessment, hazard prevention and control, education and training, program evaluation and improvement, and communication and coordination. Perilaku Safety was assessed through two dimensions: safety compliance and safety participation. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test for OHS program implementation based on OSHA 3885 and the Chi-square test for worker characteristics. The results indicated a strong and significant positive relationship between OHS program implementation and workers’ Perilaku Safety (ρ = 0.743; p < 0.001). All elements of OHS program implementation also demonstrated strong and significant relationships with Perilaku Safety, including management leadership (ρ = 0.685; p < 0.001), worker participation (ρ = 0.640; p < 0.001), hazard identification and assessment (ρ = 0.696; p < 0.001), hazard prevention and control (ρ = 0.662; p < 0.001), education and training (ρ = 0.710; p < 0.001), and program evaluation and improvement (ρ = 0.714; p < 0.001). Meanwhile, statistical analysis of worker characteristics showed no significant relationships between age, gender, education level, length of service, or work experience and Perilaku Safety (p > 0.05). In conclusion, effective implementation of OHS programs is strongly associated with improved workers’ Perilaku Safety, regardless of individual demographic backgrounds. This finding suggests that the OHS management system at PT X has successfully standardized Perilaku Safety across all levels of workers. Therefore, strengthening management commitment, enhancing worker participation, and continuously implementing training and evaluation of OHS programs are essential to fostering an effective and sustainable safety culture.