Abstrak
Latar Belakang : Kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun tetap menjadi masalah kesehatan reproduksi di Indonesia, sementara penggunaan kontrasepsi belum menunjukkan peningkatan yang stabil. Tujuan : Mengetahui gambaran penggunaan alat kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15-19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia. Metode : Penelitian menggunakan data SDKI 2002/2003, 2007, 2012, dan 2017 dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 766 remaja (2002/2003), 679 remaja (2007), 708 remaja (2012), dan 574 remaja (2017) yang aktif secara seksual dalam 4 bulan terakhir. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan pembobotan. Hasil : Penggunaan kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15–19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia selama periode 2002/2003–2017 menunjukkan pola fluktuatif, yaitu 51,7%, 48,6%, 52,3%, dan 48,9%. Remaja yang tinggal di wilayah perkotaan cenderung memiliki penggunaan kontrasepsi lebih tinggi dibandingkan remaja perdesaan. Penggunaan kontrasepsi relatif stabil pada remaja berpendidikan SD hingga SMP dan lebih tinggi pada kelompok kesejahteraan sedang pada beberapa tahun pengamatan. Akses terhadap fasilitas kesehatan berkaitan dengan proporsi penggunaan kontrasepsi yang lebih tinggi, sementara tingginya tingkat pengetahuan tentang metode keluarga berencana (>97%) belum sepenuhnya tercermin dalam praktik penggunaan kontrasepsi. Kesimpulan : Penggunaan kontrasepsi pada remaja perempuan usia 15–19 tahun yang aktif secara seksual di Indonesia masih belum stabil selama periode 2002/2003–2017. Meskipun pengetahuan tentang keluarga berencana sudah sangat tinggi, pemanfaatan kontrasepsi belum meningkat secara konsisten, sehingga diperlukan penguatan akses dan layanan kesehatan reproduksi yang lebih responsif terhadap kebutuhan remaja.
Background: Pregnancy among adolescents aged 15–19 years remains a major reproductive health concern in Indonesia, while contraceptive use in this age group has not shown a consistent increase. Objective: To describe the use of contraceptive methods among sexually active adolescent females aged 15–19 years in Indonesia. Methods: This study utilized data from the Indonesia Demographic and Health Surveys (IDHS) 2002/2003, 2007, 2012, and 2017 with a cross-sectional design. The samples consisted of 766 adolescents (2002/2003), 679 adolescents (2007), 708 adolescents (2012), and 574 adolescents (2017) who had been sexually active within the past four months. Data were analyzed descriptively using sampling weights. Results: Contraceptive use among sexually active adolescent girls aged 15–19 in Indonesia during the 2002/2003–2017 period showed a fluctuating pattern, namely 51.7%, 48.6%, 52.3%, and 48.9%. Adolescents living in urban areas tended to have higher contraceptive use than those in rural areas. Contraceptive use was relatively stable among adolescents with elementary to junior high school education and higher among those with moderate welfare across several observation years. Access to health facilities was associated with a higher proportion of contraceptive use, while high levels of knowledge about family planning methods (>97%) were not fully reflected in contraceptive use practices. Conclusion: Contraceptive use among sexually active adolescent girls aged 15–19 in Indonesia remained unstable during the period 2002/2003–2017. Despite high levels of family planning knowledge, contraceptive use has not consistently increased, necessitating stronger access to and more responsive reproductive health services to adolescents' needs.