Abstrak
Latar Belakang: Pada tahun 2023, Provinsi DKI Jakarta dengan incidence rate sebesar 36,27 per 100.000 penduduk dengan prevalence rate penyakit DBD di Provinsi DKI Jakarta sebesar 1,81%, nilai tertinggi kedua setelah Provinsi Papua Tengah. Pada tahun 2024, terjadi peningkatan incidence rate yang mencapai 122,53 per 100.000 penduduk. Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor iklim, kepadatan penduduk, Angka Bebas Jentik (ABJ), kejadian banjir, pengelolaan sampah, terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Provinsi DKI Jakarta Pada Tahun 2022–2024. Metode: Desain studi ekologi menggunakan data sekunder dengan analisis korelasi, spasial, dan regresi linear berganda pada 44 kecamatan di Provinsi DKI Jakarta sebagai unit analisis. Hasil: Hasil korelasi yang signifikan (p=0,042) antara ABJ dengan kejadian penyakit DBD di Provinsi DKI Jakarta yang memiliki kekuatan sedang dengan arah negatif yang menunjukkan semakin rendah persentase ABJ akan menyebabkan semakin tinggi proporsi DBD. Kesimpulan: Berdasarkan data global dan Asia menunjukkan proporsi yang berisiko terkait penyakit dengue sebesar 28,5% dan 26,5%, maka dari itu, proporsi DBD di Provinsi DKI Jakarta belum menunjukkan proporsi yang berisiko. Saran: Kolaborasi lintas sektor dalam pemetaan lokasi yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes dengan meningkatkan frekuensi kegiatan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan mempublikasi peringatan wabah DBD kepada masyarakat.

Background: In 2023, DKI Jakarta Province reported an incidence rate of 36.27 per  100,000 population and prevalence rate of 1.81%, the second highest after Central Papua  Province. In 2024, the incidence rate increased to 122.53 per 100,000 population.  Objective: To analyze the relationship between climatic factors, population density,  Larvae-Free Index (LFI), flood occurrence, and waste management with the occurrence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in DKI Jakarta Province from 2022 to 2024.  Methods: An ecological study design using secondary data, analyzed through correlation,  spatial analysis, and multiple linear regression across 44 districts in DKI Jakarta Province  as the unit of analysis. Results: A significant correlation (p = 0.042) was found between  LFI and DHF occurrence, with a moderate negative correlation, indicating that lower LFI  percentages are associated with higher DHF proportions. Conclusion: Based on global  and Asian risk proportions for dengue of 28.5% and 26.5%, the proportion of dengue  hemorrhagic fever in DKI Jakarta Province has not yet reached a level considered to be  at risk. Recommendation: Strengthen cross-sector collaboration to map potential Aedes  breeding sites by increasing the frequency of the Mosquito Nest Eradication Program and  issuing public health alerts related to dengue outbreaks.