Abstrak
Praktik Pemeriksaan Payudara Sendiri Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di Indonesia. Deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) menjadi upaya penting untuk menemukan kelainan sejak dini, namun tingkat penerapannya di kalangan remaja masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran praktik payudara sendiri (SADARI) pada siswi SMAN 27 Jakarta Pusat tahun 2025 menggunakan pendekatan health belief model. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswi SMAN 27 Jakarta Pusat tahun ajaran 2025/2026. Waktu pelaksanaannya pada bulan November – Desember 2025. Penelitian ini mengambil 186 responden yang dipilih menggunakan metode quota sampling, pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner online melalui Google Formulir. Hasil Penelitian menunjukan bahwa 37,6% siswi pernah setidaknya sekali melakukan SADARI dan hanya 18,8% siswi yang rutin melakukan SADARI setiap bulan. Rendahnya praktik SADARI di berkaitan dengan tingginya persepsi hambatan. Disarankan untuk memanfaatkan UKS dan PIK-R untuk membentuk peer educator dan melakukan edukasi bersifat simulasi dalam melakukan praktik SADARI.
Breast cancer is one of the leading causes of cancer-related death among women in Indonesia. Early detection through breast self-examination (BSE) is an important effort to identify abnormalities at an early stage; however, the level of practice among adolescents remains low. This study aims to describe the practice of breast self-examination (BSE) among female students of SMAN 27 Central Jakarta in 2025 using the Health Belief Model approach. This quantitative study employed a cross-sectional design. The study population consisted of all female students of SMAN 27 Central Jakarta in the 2025/2026 academic year. The research was conducted from November to December 2025 with a total of 186 respondents selected using the quota sampling method. Data were collected using an online questionnaire distributed via Google Form. The results showed that 37.6% of the students had performed BSE at least once, while only 18.8% practiced it regularly every month. The low rate of BSE practice was associated with a high level of perceived barriers. It is recommended that school health units (UKS) and youth information and counseling centers (PIK-R) be utilized to develop peer educators and conduct simulation-based educational programs to improve students’ skills and consistency in performing BSE.