Abstrak
Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada status kesehatan dan prestasi belajar. Salah satu upaya pencegahan anemia yang dilakukan pemerintah adalah melalui program pemberian tablet tambah darah (TTD) secara rutin di sekolah. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi TTD. Hingga saat ini kepatuhan konsumsi TTD masih tergolong rendah, sehingga upaya pencegahan anemia belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komponen Health Belief Model (HBM) dengan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah pada siswi MTs Negeri Kota Depok tahun 2025. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah siswi kelas VIII dan IX MTs Negeri 1 Kota Depok dengan jumlah sampel 185 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 49,2% siswi memiliki tingkat kepatuhan konsumsi TTD yang rendah. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kerentanan (p = 0,213), persepsi keparahan (p = 0,219), persepsi manfaat (p = 0,530), serta isyarat untuk bertindak (p = 0,921) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi hambatan (p = 0,004) dan efikasi diri (p = 0,001) dengan kepatuhan konsumsi TTD. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi hambatan dan efikasi diri berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan konsumsi TTD pada siswi. Oleh karena itu, sekolah disarankan untuk mengoptimalkan edukasi penanganan efek samping serta memperkuat efikasi diri siswi guna meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD secara berkelanjutan.
Anemia among adolescent girls remains a public health problem that adversely affects health status and academic achievement. One of the government’s efforts to prevent anemia is the implementation of an iron supplementation program in schools; however, its success is highly dependent on student adherence to iron supplementation tablet consumption. To date, adherence among adolescent girls remains low, resulting in suboptimal anemia prevention outcomes. This study aimed to analyze the relationship between the components of the Health Belief Model (HBM) and adherence to iron supplementation tablet consumption among female students at MTs Negeri 1 Kota Depok in 2025. This quantitative study employed a cross-sectional design. The study population consisted of female students in grades VIII and IX at MTs Negeri 1 Kota Depok, with a total sample of 185 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed through univariate and bivariate analyses using the Chi-Square test. The results showed that 49,2% of the students had a low level of adherence to iron supplementation tablet consumption. Bivariate analysis revealed there was no significant relationship between perceived susceptibility (p = 0,213), perceived severity (p = 0,219), perceived benefits (p = 0,530), and cues to action (p = 0,921) with adherence to iron supplementation tablet consumption. However, there was a significant relationship between perceived barriers (p = 0,004) and self-efficacy (p = 0,001) with adherence to iron supplementation tablet consumption. The conclusion of this study shows that perceived barriers and self-efficacy are significantly associated with adherence among female students. Therefore, schools are recommended to optimize education on managing side effects and strengthen student self-efficacy to improve sustained adherence to iron supplementation tablet consumption.