Abstrak
Penyakit ginjal kronis meningkat secara global maupun nasional, namun studi terkait mortalitas akibat penyakit ginjal kronis terbatas. Penelitian bertujuan menganalisis tren dan distribusi kematian akibat penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta berdasarkan umur, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan selama 2020-2025 dengan desain potong lintang menggunakan data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Penelitian menggunakan total sample berjumlah 11.495, dengan minimal 384 sampel per tahun, berupa kematian dengan penyebab dasar penyakit ginjal kronis sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian berdasarkan perhitungan Crude-Specific Death Rate dengan Confidence Interval 95% menunjukkan angka kematian populasi cenderung meningkat selama periode penelitian, puncak tren terjadi tahun 2024 CSDR 215,8 (CI 95%:207,8-224,8) dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama. Kelompok usia ≥60 tahun mendominasi dengan puncak di tahun 2025 CSDR 1014,4 (CI 95%:959,9-1071,2). Angka kematian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan puncak tren di 2025 CSDR 233,7 (CI 95%:221,0-247,0). Wilayah Jakarta Timur menyumbang jumlah kematian absolut tertinggi, dengan puncak di tahun 2024 CSDR 251,5 (CI 95%:234,1-269,8). Ditemukan 317 data anomali kode menunjukkan inkonsistensi pengkodean diagnosis, dengan puskesmas menyumbang laporan anomali terbanyak. Tren mortalitas penyakit ginjal kronis di DKI Jakarta yang meningkat, terutama pasca-pandemi, serta laporan kasus tidak valid menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan perbaikan kualitas data untuk mendukung efektivitas pengendalian penyakit.

Chronic kidney disease is rising both globally and nationally, yet studies on mortality due to chronic kidney disease remain limited. This study aims to analyse trends and the distribution of mortality rates due to chronic kidney disease in Jakarta, based on age, sex, region, and source of reporting, for the period 2020-2025, using a cross-sectional design and data from the Jakarta Provincial Health Office. The study used a total sample of 11.495, with a minimum 384 cases per year, comprising deaths with chronic kidney disease as the underlying cause, in accordance with the inclusion and exclusion criteria. The results showed that the mortality rate for the entire population tended to increase during the study period, peaking in 2024 at a CSDR of 215.8 (95% CI: 207.8–224.8), with hospitals as the primary source of reporting. The age group ≥60 years dominated, with a peak in 2025 at a CSDR of 1014.4 (95% CI: 959.9–1071.2). Men had a higher mortality rate than women, with the trend peaking in 2025 at a CSDR of 233.7 (95% CI: 221.0–247.0). The East Jakarta region contributed the highest absolute number of deaths, with a peak in 2024 at 251.5 CSDR (95% CI: 234.1–269.8). A total of 317 cases of coding anomalies were identified, indicating inconsistencies in diagnosis coding, with the community health centre accounting for the highest number of anomalous reports. The rising trend in chronic kidney disease mortality in Jakarta, particularly post-pandemic, along with reports of invalid cases, highlights the need for preventive measures and improvements in data quality to support the effectiveness of disease control.