Latar Belakang : Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada daerah perkotaan seperti Kota Administrasi Jakarta Barat. Variabel iklim berupa suhu udara, tingkat kelembaban, serta curah hujan diketahui berhubungan dengan perubahan jumlah kasus DBD karena faktor-faktor tersebut memengaruhi pertumbuhan dan aktivitas nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penular penyakit. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim yang mencakup suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Barat selama periode 2016–2025. Metode : Dalam kajian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancangan ekologi time series untuk menganalisis data penelitian. Data yang dipakai merupakan data sekunder berupa jumlah kejadian DBD yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sedangkan data terkait iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan bersumber dari NASA POWER. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis univariat serta bivariat, dengan pengujian korelasi menggunakan Pearson atau Spearman berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing variabel. Hasil : Temuan kajian ini memperlihatkan jika keterkaitan antara faktor iklim berupa suhu udara serta kelembaban udara terhadap kejadian DBD lebih dominan pada Lag 1 dibandingkan Lag 2. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan pada tahun 2021 serta 2023. Di sisi lain, faktor iklim curah hujan memperlihatkan hubungan yang lebih kuat pada Lag 2 daripada Lag 1.
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public health problems in Indonesia, particularly in urban areas such as the Administrative City of West Jakarta. Climate variables, including air temperature, humidity levels, and rainfall, are known to be associated with changes in the number of DHF cases because these factors influence the growth and activity of Aedes spp. mosquitoes as disease vectors. This study was conducted to determine the relationship between climate factors, namely air temperature, air humidity, and rainfall, and the incidence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in the Administrative City of West Jakarta during the 2016–2025 period. Methods: This study employed a quantitative method with a time-series ecological design to analyze the research data. The data used were secondary data consisting of the number of DHF cases obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office, while climate-related data such as air temperature, air humidity, and rainfall were sourced from NASA POWER. The analytical techniques applied included univariate and bivariate analyses, with correlation testing using Pearson or Spearman methods based on the normality test results of each variable.Results: The findings of this study indicate that the relationship between climate factors, specifically air temperature and air humidity, and DHF incidence was stronger at Lag 1 compared to Lag 2. Significant negative relationships were identified in 2021 and 2023. Meanwhile, the climate factor of rainfall demonstrated a stronger relationship at Lag 2 than at Lag 1.