Abstrak
Pada tahun 2023, tren kasus ISPA pada balita di Jakarta Selatan mengalami peningkatan sepanjang tahun. Konsentrasi PM 2,5 di Jakarta Selatan juga mengalami peningkatan setiap bulannya selama tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara PM 2,5 dan kejadian ISPA balita dengan mempertimbangkan status imunisasi di Jakarta Selatan tahun 2023. Desain studi yang digunakan adalah studi ekologi berdasarkan tempat dengan unit analisis 10 kecamatan di Jakarta Selatan. Pada penelitian ini dilakukan analisis univariat dan bivariat dengan uji korelasi pearson atau spearman, serta uji normalitas dengan uji Shapiro-Wilk. Kecamatan dengan rata-rata konsentrasi PM 2,5 tertinggi adalah Kecamatan Pesanggrahan. Sedangkan kecamatan dengan jumlah kasus ISPA balita tertinggi adalah Kecamatan Kebayoran Lama dengan total mencapai 14.643 kasus (16,2%). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara PM 2,5 dan ISPA balita di Jakarta Selatan (r = 0,109), namun secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan (p = 0,735; p > 0,05). Sementara itu, terdapat korelasi positif antara status imunisasi balita dan ISPA balita di Jakarta Selatan (r = 0.496), namun secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan (p = 0.101; p > 0,05). Hasil statistika yang tidak signifikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ukuran sampel dan uji statistika yang digunakan. Secara ilmiah PM 2,5 dan status imunisasi memiliki pengaruh terhadap kejadian ISPA balita. PM 2,5 mampu menurunkan kemampuan pertahanan antivirus sel terhadap patogen ISPA. Sementara itu, imunisasi berperan sebagai pelindung balita dari infeksi patogen penyebab ISPA. Dari hasil penelitian ini, salah satu saran yang diberikan adalah perlu dilakukannya koordinasi lintas sektor untuk meningkatkan pencegahan ISPA pada balita. 

In 2023, the trend in cases of acute respiratory infections (ARIs) among toddlers in South Jakarta showed an increase throughout the year. PM 2.5 concentrations in South Jakarta also increased every month during 2023. This study aims to analyze the correlation between PM 2.5 and the incidence of ARI in toddlers, taking into account immunization status in South Jakarta in 2023. The study design used was a place-based ecological study with 10 subdistricts in South Jakarta as the units of analysis. In this study, univariate and bivariate analyses were conducted using Pearson’s or Spearman’s correlation tests, as well as normality tests using the Shapiro-Wilk test. The sub-district with the highest average PM 2.5 concentration was Pesanggrahan. Meanwhile, the sub-district with the highest number of ARI cases among toddlers was Kebayoran Lama, with a total of 14,643 cases (16.2%). The correlation test results indicated a positive correlation between PM 2.5 and ARI in infants in South Jakarta (r = 0.109); however, there was no statistically significant relationship (p = 0.735; p > 0.05). Meanwhile, there was a positive correlation between toddler immunization status and ARI in South Jakarta (r = 0.496), but statistically, there was no significant relationship (p = 0.101; p > 0.05). Statistically insignificant results are influenced by several factors, namely sample size and the statistical tests used. Scientifically, PM 2.5 and immunization status have an effect on the incidence of ARI in toddlers. PM 2.5 has the ability to reduce the antiviral defense capacity of cells against ARI pathogens. Meanwhile, immunization has the role as a protective measure for toddlers against infection by pathogens that cause ARI. Based on the results of this study, one of the recommendations is the need for cross-sectoral coordination to improve ARI prevention in toddlers.