Abstrak

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat dan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, termasuk faktor lingkungan. Pajanan kebisingan lingkungan dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi kesehatan metabolik melalui mekanisme stres fisiologis dan gangguan regulasi hormonal. Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo merupakan kawasan yang terdampak aktivitas bandara X dan aktivitas transportasi lalu lintas sehingga berpotensi mengalami pajanan kebisingan lingkungan yang tinggi. Tujuan: Mengetahui hubungan pajanan kebisingan dengan kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain unmatched case-control dengan jumlah sampel 198 responden yang terdiri dari 112 kasus dan 86 kontrol. Data primer diperoleh melalui pengukuran kebisingan menggunakan Sound Level Meter pada tiga titik lokasi dengan tujuh sesi waktu pengukuran. Data sekunder diperoleh dari rekam medis Puskesmas Temon. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh titik pengukuran memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu kebisingan kawasan permukiman, dengan rata-rata sebesar 73.84 dB(A). Analisis bivariat menunjukkan bahwa pajanan kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian DM (p-value = 0.624). Variabel usia, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan berpengaruh terhadap kejadian DM pada analisis bivariat, sedangkan jenis kelamin, tekanan darah, dan indeks massa tubuh tidak menunjukkan pengaruh yang bermakna. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia merupakan satu-satunya variabel yang tetap berpengaruh terhadap kejadian DM setelah dikontrol bersama variabel lain dalam model. Kesimpulan: Pajanan kebisingan tidak berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Temon Kabupaten Kulon Progo. Namun, seluruh lokasi penelitian memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu kebisingan permukiman. Usia merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian Diabetes Mellitus pada masyarakat di wilayah penelitian. Kata kunci: diabetes mellitus, kebisingan lingkungan, pajanan kebisingan, case-control


Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease with an increasing global prevalence and is influenced by various risk factors, including environmental factors. Long-term exposure to environmental noise is suspected to affect metabolic health through physiological stress responses and hormonal dysregulation. The working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency, is located near an airport and is potentially exposed to high levels of environmental noise generated by “X” aircraft operations and road traffic activities. Objective: To determine the association between noise exposure and the incidence of Diabetes Mellitus among residents in the working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency, in 2026. Methods: This study employed an unmatched case-control design involving 198 respondents, consisting of 112 cases and 86 controls. Primary data were collected through noise measurements using a Sound Level Meter at three measurement locations with seven observation sessions. Secondary data were obtained from the medical records of Temon Primary Health Center. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. Results: The results showed that all measurement locations exceeded the residential noise standard, with an average noise level of 73.84 dB(A). Bivariate analysis indicated that noise exposure was not significantly associated with the incidence of Diabetes Mellitus (p-value = 0.624). Age, educational level, and employment status were significantly associated with Diabetes Mellitus in the bivariate analysis, whereas sex, blood pressure, and body mass index showed no significant association. Multivariate analysis revealed that age was the only variable that remained significantly associated with Diabetes Mellitus after adjustment for other variables in the model. Conclusion:  Noise exposure was not associated with the incidence of Diabetes Mellitus among residents in the working area of Temon Primary Health Center, Kulon Progo Regency. Nevertheless, all study locations were exposed to noise levels exceeding the residential noise standard. Age was identified as the most dominant factor associated with the incidence of Diabetes Mellitus in the study population. Keywords: Diabetes Mellitus, environmental noise, noise exposure, case-control study.