Abstrak
Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.

Latar Belakang: InfeksidSaluran Pernapasan Akut (ISPA) masihmmenjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah perkotaan padat pendudk seperti Kota Bogor. Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) dalam ruang diduga menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi. Tujuan: Mengetahui hubungan antara konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang dengan kejadian ISPA pada masyarakat di Kota Bogor tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, sedangkan variabel independen utama adalah konsentrasi PM 2,5 udara dalam ruang. Variabel lain yang dianalisis meliputi kepadatan hunian, pajanan asap rokok, dan perilaku membersihkan rumah. Hasil: Sebanyak 7,7% rumah tangga mengalami kejadian ISPA, dan 50,4% rumah tangga memiliki konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah yangggtidak memenuhi syarat. Hasilaanalisis bivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA (p = 0,150; OR = 1,54; 95% CI: 0,89–2,67). Variabel kepadatan hunian menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan kejadian ISPA (p = 0,019; OR = 2,10; 95% CI: 1,16–3,79), sedangkan pajanan asap rokok (p = 0,133; OR = 1,73; 95% CI: 0,89–3,33) dan perilaku membersihkan rumah (p = 0,633; OR = 0,79; 95% CI: 0,39–1,60) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah tetap tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA setelah dikontrol oleh variabel potensial confounding (AOR = 1,548; 95% CI: 0,896–2,675; p = 0,117). Kesimpulan: Konsentrasi PM 2,5 udara dalam rumah belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan kejadian ISPA pada masyarakat Kota Bogor. Kepadatan hunian merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA.