Abstrak
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dengan tingginya kesenjangan pada setiap tahapan kaskade perawatan, mulai dari prevalensi hingga pengendalian tekanan darah. Kesenjangan tersebut dipengaruhi oleh determinan biologis, perilaku, dan sosial, baik pada tingkat individu maupun wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan biologis, perilaku, dan sosial terhadap kaskade perawatan hipertensi di Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023. Populasi penelitian adalah individu usia ≥25 tahun di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan multilevel untuk menilai hubungan determinan tingkat individu dan tingkat kabupaten/kota terhadap prevalensi, kesadaran, pengobatan, dan pengendalian hipertensi. Determinan tingkat individu meliputi determinan biologis dan perilaku, serta determinan sosial. Determinan tingkat kabupaten/kota meliputi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), cakupan wilayah per Puskesmas, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita. Hasil utama penelitian menunjukkan bahwa pada prevalensi hipertensi determinan tingkat individu menjadi prediktor utama, dengan hampir seluruh determinan biologis, perilaku, dan sosial menunjukkan adanya hubungan, kecuali kepemilikan asuransi kesehatan. Sementara itu, pada tahap kesadaran dan pengobatan hipertensi, selain determinan individu, determinan tingkat kabupaten/kota juga ikut berkontribusi. Kemudian, pada tahap pengendalian hipertensi determinan individu kembali menjadi prediktor utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran dan pengobatan dipengaruhi oleh determinan akses dan infrastruktur di tingkat kabupaten/kota, sedangkan prevalensi dan pengendalian lebih dipengaruhi determinan yang melekat pada tingkat individu. Penguatan deteksi dini, kontinuitas layanan kesehatan, serta intervensi berbasis sosial dan perilaku diperlukan untuk meningkatkan pengendalian hipertensi di Indonesia.

Hypertension remains a major public health problem in Indonesia, characterized by substantial gaps across each stage of the hypertension care cascade, from prevalence to blood pressure control. These gaps are influenced by biological, behavioral, and social determinants at both the individual and regional levels. This study aimed to analyze the association between biological, behavioral, and social determinants and the hypertension care cascade in Indonesia in 2023. The study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey and Statistics Indonesia. The study population consisted of individuals aged ≥25 years in Indonesia. A multilevel analysis approach was employed to assess the association of individual and district level determinants with hypertension prevalence, awareness, treatment, and control. Individual level determinants included biological, behavioral, and social factors. District-level determinants included the Human Development Index (HDI), Puskesmas coverage area, and regional gross domestic product (RGDP) per capita. The main findings showed that individual level determinants were the primary predictors of hypertension prevalence, with almost all biological, behavioral, and social determinants demonstrating significant associations, except health insurance ownership. Meanwhile, at the awareness and treatment stages, district level determinants also contributed alongside individual level factors. At the hypertension control stage, individual level determinants again emerged as the main predictors. This study concludes that awareness and treatment are influenced by access and infrastructure related determinants at the district level, whereas prevalence and control are more strongly affected by determinants inherent to the individual level. Strengthening early detection, ensuring continuity of healthcare services, and implementing social and behavioral interventions are necessary to improve hypertension control in Indonesia.