Abstrak
Stunting adalah salah satu bentuk malnutrisi yang diidentifikasi melalui nilai-z panjang atau tinggi badan anak di bawah -2 standar deviasi berdasarkan Standar Pertumbuhan Anak WHO. Stunting dapat disebabkan oleh defisiensi zat gizi dan gangguan pertumbuhan anak selama 1000 Hari Pertama Kelahiran. Stunting dapat menyebabkan risiko morbiditas dan mortalitas, infeksi, dan perkembangan penyakit tidak menular. Pada tahun 2024, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki prevalensi stunting sebesar 37%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian stunting pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT berdasarkan data SSGI 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dan melibatkan 1.939 sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang digunakan adalah data SSGI 2024. Variabel independen yang dilibatkan dibagi ke dalam faktor ibu, anak, dan rumah tangga. Data dianalisis secara bivariat dengan metode chi-square dan secara multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 41.8% pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT 2024. Variabel usia ibu, tinggi badan ibu, kunjungan ANC, pengetahuan stunting, riwayat PBLR, riwayat ISPA, riwayat pneumonia, riwayat imunisasi dasar, indeks kekayaan, kepemilikan fasilitas sanitasi, sumber air minum, dan daerah tempat tinggal berhubungan signifikan dengan stunting. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak 24-35 bulan di Provinsi NTT adalah tinggi badan ibu (aOR 2.48, 95% CI 1.92-3.20).
Stunting is a form of malnutrition identifiable through length- or height-for-age z-score below -2 standard deviation according to the WHO Child Growth Standards. Stunting can be caused by nutritional deficiencies and growth faltering throughout the First 1000 Days of Life. Stunting may increase risk of morbidity and mortality, infection, and non-communicable disease development. Eastern Nusa Tenggara has a 37% stunting rate in 2024. This research aims to identify risk factors correlated to stunting in children aged 24-35 months in Eastern Nusa Tenggara Province. The design of this study is cross-sectional and involves 1.939 amount of samples filtered with inclusion and exclusion criterias. Data involved in this study are from the 2024 SSGI. Independent variables involved are categorised into maternal, child, and household factors. Data were analysed bivariately through chi-square test and multivariately through multiple logistic regression. Results show that 41.8% children aged 24-35 months in Eastern Nusa Tenggara are stunted. Maternal age, maternal stature, antenatal care visits, knowledge on stunting, short birth length, URTI, pneumonia, immunisation history, wealth index, sanitation facility, drinking water source, and place of residence are found to be significantly associated with stunting. The dominant factor identified in this study is maternal stature (aOR 2.48, 95% CI 1.92-3.20).