Abstrak
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di Indonesia. Provinsi DKI Jakarta memiliki prevalensi pneumonia balita tertinggi di Pulau Jawa pada tahun 2023, sementara Provinsi Banten dan Jawa Barat merupakan wilayah penyangga dengan mobilitas penduduk yang tinggi dan karakteristik wilayah yang beragam. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola persebaran kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan pola persebaran kejadian pneumonia pada balita serta faktor-faktor yang memengaruhinya di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan pendekatan analisis spasial menggunakan Moran’s I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara global kejadian pneumonia pada balita memiliki pola sebaran menyebar dan tidak menunjukkan autokorelasi spasial yang signifikan. Faktor kepadatan penduduk, penggunaan bahan bakar utama untuk memasak berisiko, rumah sehat, penduduk berpendidikan rendah, penduduk miskin, ketersediaan fasilitas kesehatan dan kelengkapan imunisasi dasar menunjukkan pola sebaran mengelompok, sedangkan variabel ibu merokok memiliki pola sebaran menyebar. Meskipun kejadian pneumonia pada balita tidak mengelompok secara global, terdapat wilayah tertentu yang memiliki risiko tinggi berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhinya. Pemerintah diharapkan dapat melakukan upaya preventif yang berdasarkan karakteristik sebaran faktor risiko di masing-masing wilayah untuk meningkatkan efektivitas program penanggulangan pneumonia balita.

Pneumonia remains one of the leading causes of morbidity and mortality among children under five in Indonesia. In 2023, DKI Jakarta had the highest prevalence of childhood pneumonia on Java Island, while Banten and West Java serve as buffer provinces with high population mobility and diverse regional characteristics. These conditions may influence the spatial distribution of pneumonia among children under five. This study aimed to examine the distribution and spatial patterns of childhood pneumonia and the factors influencing its occurrence in DKI Jakarta, Banten, and West Java in 2023. This research employed an ecological study design with a spatial analysis approach using Moran’s I. The results showed that, at the global level, childhood pneumonia exhibited a dispersed spatial pattern and did not demonstrate significant spatial autocorrelation. Population density, the use of high-risk primary cooking fuels, healthy housing conditions, low educational attainment, poverty, the availability of health facilities and complete basic immunization showed clustered spatial patterns, whereas mother who smoked exhibited dispersed patterns. Although childhood pneumonia did not cluster globally, certain areas were identified as having a high risk based on the spatial distribution of influencing factors. It is expected that the government can implement more targeted preventive approaches based on the spatial characteristics of risk factors in each area to improve the effectiveness of childhood pneumonia control programs.