Abstrak
Latar Belakang: Prevalensi kanker serviks di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya sehingga beban ekonomi yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan mengalami peningkatan yang signifikan. Skrining pap smear sebagai upaya deteksi kanker serviks menjadi esensial untuk mencegah keterlambatan penanganan yang berdampak pada pembengkakan biaya kesehatan. Namun, tidak lebih dari 5% perempuan di Indonesia pernah memanfaatkan layanan skrining pap smear. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan layanan skrining pap smear oleh peserta JKN pada tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Hasil: Cakupan utilisasi skrining pap smear dalam program JKN pada tahun 2024 masih tergolong sangat rendah (0,24%). Seluruh variabel independen berupa karakteristik peserta dan fasilitas kesehatan ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan layanan skrining pap smear. Peserta JKN perempuan yang berusia 30 – 65 tahun (OR = 4,14; 95% CI = 3,98 – 4,31), berstatus kawin (OR = 1,74; 95% CI = 1,71 – 1,78), tergolong PPU (OR = 4,83; 95% CI = 4,67 – 5,00), memiliki hak kelas rawat II (OR = 1,96; 95% CI = 1,90 – 2,01), terdaftar di klinik pratama (OR = 1,99; 95% CI = 1,97 – 2,02), dan terdaftar di FKTP yang berlokasi di Bali (OR = 4,88; 95% CI = 4,64 – 5,14) menjadi kelompok dengan probabilitas tertinggi untuk melakukan skrining pap smear. Kesimpulan: Upaya promosi kesehatan, pemasaran sosial, dan transformasi layanan skrining pap smear diperlukan guna meningkatkan tingkat utilisasinya dalam program JKN.
Background: The prevalence of cervical cancer in Indonesia continues to increase annually, leading to a significant rise in the economic burden borne by BPJS Kesehatan. Pap smear test, as an effort for early cervical cancer detection, is essential to prevent delayed treatment that results in an escalated costs for healthcare. However, no more than 5% of women in Indonesia have ever utilized pap smear test. Objective: This study aims to analyze the utilization of pap smear test services among the JKN participants in 2024. Methods: This study used a cross-sectional design using secondary data from the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data. Results: The coverage of pap smear test utilization within the JKN program in 2024 was still classified as very low (0.24%). All independent variables, including the characteristics of participant and healthcare facility, were found to have a significant relationship with the utilization of pap smear test. Female JKN participants aged 30 – 65 years old (OR = 4.14; 95% CI = 3.98 – 4.31), married (OR = 1.74; 95% CI = 1.71 – 1.78), classified as PPU (formal workers) (OR = 4.83; 95% CI = 4.67 – 5.00), entitled to Class II inpatient care (OR = 1.96; 95% CI = 1.90 – 2.01), registered at a primary clinic (OR = 1.99; 95% CI = 1.97–2.02), and registered at a primary healthcare facility located in Bali (OR = 4.88; 95% CI = 4.64 – 5.14) were found to be the group with the highest probability of undergoing a pap smear test. Conclusion: Efforts in health promotion, social marketing, and the transformation of pap smear test services are required to increase its utilization rate within the JKN program.