Abstrak
Diare merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di tingkat global. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur serta berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kematian. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesi (SSGI) 2024 serta mengidentifikasi determinan yang paling dominan. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 dengan sampel sebesar 16.395 orang. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik model determinan prediksi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat sebanyak 1.417 balita (8,6%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia balita (OR=1,710; 95%CI=1,489–1,964), status gizi (OR=1,832; 95%CI=1,536–2,185), jenis kelamin (OR=1,279; 95%CI=1,113–1,470), dan pendidikan ibu (OR=1,361; 95%CI=1,165–1,590) berhubungan signifikan dengan kejadian diare (p<0,05). Status gizi merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian diare, dimana balita dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,825 kali lebih tinggi mengalami diare dibandingkan balita dengan status gizi baik (AOR=1,825; 95% CI: 1,530–2,176). Oleh karena itu perlu memperkuat integrasi program pencegahan diare dengan intervensi perbaikan gizi pada balita usia 6–23 bulan melalui pemantauan pertumbuhan, deteksi dini masalah gizi, serta edukasi gizi dan higiene. Kata Kunci : Diare, status gizi, usia balita, jenis kelamin, pendidikan ibu
Diarrhea is one of the major environmentally related infectious diseases that remains a significant global public health problem. It affects all age groups and has the potential to cause outbreaks and mortality. This study aimed to analyze the determinants of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java Province using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and to identify the most dominant determinant. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, involving 16,395 children aged 6–59 months. Data were analyzed using the chi-square test and multivariable logistic regression with a determinant prediction model. The results showed that the prevalence of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java was 8.6% (1,417 children). Bivariate analysis indicated that child age (OR=1.710; 95% CI: 1.489–1.964), nutritional status (OR=1.832; 95% CI: 1.536–2.185), sex (OR=1.279; 95% CI: 1.113–1.470), and maternal education (OR=1.361; 95% CI: 1.165–1.590) were significantly associated with diarrhea (p<0.05). Nutritional status was identified as the most dominant determinant, with undernourished children having a 1.825-fold higher risk of developing diarrhea than well-nourished children (AOR=1.825; 95% CI: 1.530–2.176). Therefore, strengthening the integration of diarrhea prevention programs with nutrition improvement interventions for children aged 6–23 months is recommended through growth monitoring, early detection of nutritional problems, and nutrition and hygiene education. Keywords: Diarrhea, nutritional status, child age, sex, maternal education.