Abstrak
Implementasi aplikasi ASIK pada program imunisasi di fasilitas kesehatan primer masih menghadapi kendala teknis, keterbatasan kapasitas SDM, dan masalah integrasi data yang memicu beban input ganda serta disparitas angka cakupan. Kesenjangan antara desain sistem nasional dan realitas implementasi ini mendasari perlunya evaluasi komprehensif terhadap efektivitas pencatatan, pelaporan, dan pemanfaatan data di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi implementasi aplikasi ASIK dengan menggunakan integrasi dari model evaluasi sistem informasi UTAUT2, DeLone & McLean, HOT-Fit, dan DOQ-IT sebagai upaya penguatan pencatatan, pelaporan serta pemanfaatan data pada program imunisasi di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Penelitian ini menggunakan mix methods dengan pendekatan Sequential Explanatory pada staf dinas kesehatan, tenaga kesehatan di puskesmas, dan kader kesehatan. Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Luwu Timur dan Kota Makassar. Data kuantitatif diperoleh melalui pengisian kuesioner secara daring oleh tenaga kesehatan dengan total 148 orang dan kader kesehatan dengan total 283 orang yang kemudian dilakukan analisis dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Sedangkan data kualitatif diperolah dengan wawancara mendalam terhdapa 9 orang informan terdiri dari staf dinas kesehatan, tenaga kesehatan di puskesmas, dan kader kesehatan di masing-masing wilayah penelitian. Hasil analisis PLS-SEM menunjukkan perbedaan determinan adopsi sistem antara kedua kelompok pengguna. Pada Kader Kesehatan, Niat untuk Menggunakan dipengaruhi secara signifikan oleh Harapan Kinerja (P-value < 0,001), Kepuasan Pengguna (P-value < 0,001), dan Kondisi yang Memfasilitasi (P-value < 0,001). Sementara itu, pada kelompok Tenaga Kesehatan, Kepuasan Pengguna menjadi satu-satunya faktor yang berpengaruh signifikan terhadap Niat untuk Menggunakan (P-value = 0,004). Pada kedua kelompok, Kendala Operasional dan Niat untuk Menggunakan sukses mendorong Penggunaan aktual, yang secara linear berdampak signifikan terhadap peningkatan Manfaat Bersih. Hasil kualitatif mengungkap bahwa hambatan adopsi bersumber dari beban input ganda akibat belum terintegrasinya sistem, kendala konektivitas di wilayah rural, serta masih kurangnya pengadaan fasilitas seperti gawai atau kuota internet. Strategi penguatan implementasi aplikasi ASIK kedepannya dapat dikelompokkan ke dalam empat pilar utama yang saling berkaitan, di mana perbaikan pada satu aspek akan memperkuat variabel lainnya guna mencapai keberlanjutan sistem yang optimal.

The implementation of the ASIK application in the immunization program at primary health care facilities still faces technical obstacles, limited human resource capacity, and data integration issues that trigger double input burdens and disparities in coverage rates. This gap between the national system design and the reality of implementation underlies the need for a comprehensive evaluation of the effectiveness of recording, reporting, and data utilization in the field. The purpose of this study is to evaluate the implementation of the ASIK application using an integration of the UTAUT2, DeLone & McLean, HOT-Fit, and DOQ-IT information system evaluation models as an effort to strengthen recording, reporting, and data utilization in the immunization program at primary health care facilities. This study used a mixed methods with a sequential explanatory approach on health service staff, health personnel at community health centers, and health cadres. This study was conducted in South Sulawesi Province, specifically in East Luwu Regency and Makassar City. Quantitative data were obtained through online questionnaires completed by 148 health personnel and 283 health cadres, which were then analyzed using the Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method. Meanwhile, qualitative data was obtained through in-depth interviews with 9 informants consisting of health service staff, health personnel at community health centers, and health cadres in each research area. The results of the PLS-SEM analysis showed differences in the determinants of system adoption between the two user groups. For Health Cadres, Intention to Use was significantly influenced by Performance Expectations (P-value <0.001), User Satisfaction (P-value <0.001), and Facilitating Conditions (P-value <0.001). Meanwhile, for the Health Personnel, User Satisfaction was the only factor that significantly influenced Intention to Use (P-value = 0.004). In both groups, Operational Constraints and Intention to Use successfully drove actual Use, which linearly had a significant impact on increasing Net Benefits. Qualitative results revealed that barriers to adoption stemmed from the burden of multiple inputs due to the lack of system integration, connectivity constraints in rural areas, and the lack of facilities such as devices or internet quotas. The strategy for strengthening the implementation of the ASIK application in the future can be grouped into four main pillars that are interrelated, where improvements in one aspect will strengthen other variables to achieve optimal system sustainability.