Abstrak
Kelompok Lelaki yang Berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) menghadapi hambatan struktural dan stigma yang memengaruhi kemampuan mereka mengakses dan memanfaatkan informasi kesehatan. Literasi kesehatan yang memadai menjadi kunci bagi kelompok ini dalam mengelola pencegahan HIV, termasuk penggunaan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) secara konsisten. Penelitian bertujuan mengetahui gambaran literasi kesehatan dan faktor-faktor yang berasosiasi dengan literasi kesehatan pada kelompok LSL usia 18-24 tahun yang mengakses layanan PrEP melalui Yayasan Pesona Bumi Pasundan (YPBP) di Kabupaten Bogor, dengan mengacu pada model determinan literasi kesehatan Pawlak (2005) dan model literasi kesehatan Sørensen (2012) sebagai kerangka teori. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan total sampling 86 responden. Literasi kesehatan diukur menggunakan HLS-EU-Q16, sementara pengetahuan HIV diukur menggunakan HIV-KQ-18. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk usia serta Mann-Whitney untuk variabel lainnya. Hasil menunjukkan rata-rata skor literasi kesehatan responden sebesar 3,04 (SD = 0,687), berada pada kategori mencukupi. Berdasarkan dimensi, skor tertinggi terdapat pada dimensi fungsional, diikuti interaktif dan kritis. Berdasarkan domain, skor tertinggi pada domain pelayanan kesehatan, diikuti pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Analisis bivariat menunjukkan jumlah sumber informasi kesehatan (p-value = 0,017) dan pengetahuan HIV (p-value = 0,009) berhubungan bermakna secara statistik dengan literasi kesehatan, sementara usia, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan tidak menunjukkan hubungan bermakna (p-value > 0,05). Peningkatan literasi kesehatan pada LSL muda perlu difokuskan pada perluasan akses terhadap sumber informasi kesehatan yang berkualitas dan beragam, serta penguatan edukasi HIV yang akurat, inklusif, dan bebas stigma melalui program berbasis komunitas.
Men who have sex with men (MSM) face structural barriers and stigma that affect their ability to access and utilize health information. Adequate health literacy is essential for this group in managing HIV prevention, including the consistent use of Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP). This study aimed to describe health literacy and identify factors associated with health literacy among MSM aged 18-24 years accessing PrEP services through Yayasan Pesona Bumi Pasundan (YPBP) in Kabupaten Bogor, drawing on Pawlak's (2005) health literacy determinants model and Sørensen's (2012) health literacy model as the theoretical framework. This study employed a cross-sectional design with total sampling of 86 respondents. Health literacy was measured using the HLS-EU-Q16, while HIV knowledge was measured using the HIV-KQ-18. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, applying Spearman Rank correlation for age and the Mann-Whitney test for the remaining variables. Results showed a mean health literacy score of 3.04 (SD = 0.687), categorized as sufficient. By dimension, the highest score was found in the functional dimension, followed by the interactive and critical dimensions. By domain, the highest score was found in the healthcare domain, followed by disease prevention and health promotion. Bivariate analysis showed that the number of health information sources accessed (p-value = 0.017) and HIV knowledge (p-value = 0.009) were statistically significantly associated with health literacy, while age, education level, employment status, and income showed no significant association (p-value > 0.05). Efforts to improve health literacy among young MSM should focus on expanding access to quality and diverse health information sources, as well as strengthening accurate, inclusive, and stigma-free HIV education through community-based programs.