Abstrak
Latar belakang : Penyakit jantung koroner menyumbang sekitar 32% kematian global dan salah satu faktor resikonya adalah hiperkolesterolemia yang kini tidak lagi identik dengan usia lanjut namun sudah bergeser ke usia lebih muda termasuk usia produktif. Berdasarkan hasil analisis kesehatan pegawai dilokasi penelitian pada tahun 2025 sebanyak 39% pegawai mengalami tren kenaikan kadar kolesterol dan kolesterol tetap tinggi serta 44% lainnya mengalami tren kadar kolesterol fluktuatif dengan kecenderungan meningkat. Salah satu perilaku yang berkontribusi terhadap hipeekolesterolemia adalah perilaku konsumsi makanan tinggi lemak. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi makanan tinggi lemak meliputi faktor predisposing, enabling, dan reinforcing sesuai kerangka model Lawrence Green pada pekerja di UPT Kementerian X di Provinsi Jawa Barat, Indonesia Tahun 2026. Metode : Penelitian kuantitatif crosssectional dilakukan terhadap seluruh pekerja menggunakan kuesioner, dengan jumlah responden yang berhasil terkumpul sebanyak 120 orang. Hasil : Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang terbukti signifikan berhubungan dengan perilaku konsumsi makanan tinggi lemak adalah kebiasaan makan (p=0,032; OR=2,673; 95%CI=1,071–6,668), ketersediaan makanan tinggi lemak (p=0,021; OR=2,976; 95%CI=1,166–7,598), keterbatasan waktu (p=0,027; OR=2,409; 95%CI=1,097–5,292), dan pengaruh rekan kerja (p=0,002; OR=3,681; 95%CI=1,558–8,698). Kesimpulan : Perilaku konsumsi makanan tinggi lemak pada pekerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang menunjukkan bahwa perilaku makan pekerja bukan semata-mata tanggung jawab individu saja, namun juga dipengaruhi oleh lingkungan dan sosial yang ada di tempat kerja. Oleh karena itu, upaya perbaikan perilaku konsumsi makan sehat perlu dilakukan secara komprehensif melalui sinergi dan kolaborasi antar pekerja maupun instansi tempat kerja agar tercipta budaya makan sehat yang dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Background: Coronary heart disease accounts of approximately 32% of global deaths, and hypercholesterolemia is one of its major risk factors. Currenly, no longer limited to older adults but has increasingly affect younger including of working age population.Based on employee health screening data in 2025, 39% of workers presistenly high and increasing cholesterol level, while 44% showed fluctuating cholesterol levels with upward trend. One of behaviors that contributes to hypercholesterolemia is the consumption of high-fat food. Objective: This study aimed to identify the determinans of consumtion of food high in fat including predisposing, enabling, and reinforcing factors base on Lawrence Green Model among worker at Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian X in West Jawa Province, Indonesia in 2026. Methods: A quantitative cross-sectional study was conducted among all workers using a self administered questionnaire. Data were successfully collected from 120 respondents. Results: The study found that several factors were significantly associated with the consumtion of food high in fat, such as eating habits (p = 0.032; OR = 2.673; 95% CI = 1.071–6.668), availability of high-fat foods (p = 0.021; OR = 2.976; 95% CI = 1.166–7.598), time constraints (p = 0.027; OR = 2.409; 95% CI = 1.097–5.292), and coworker influence (p = 0.002; OR = 3.681; 95% CI = 1.558–8.698). Conclusion: The consumption of foods high in fat among workers is influenced by multiple determinant, indicating that workers eating behavior are not individual responsibility but are also shaped by workplace environmental and social factors. Therefore, effort to promote healtier eating behaviors should adopt comprehensive approach through collaboration between workers and the workplace institution to establish a sustainable healthy weating culture.