Abstrak
Latar Belakang: Budaya keselamatan pasien merupakan salah satu indikator penting dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan pencegahan insiden keselamatan pasien di rumah sakit. Budaya keselamatan yang kuat dapat mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman, meningkatkan kualitas pelayanan, serta meminimalkan risiko terjadinya kejadian yang merugikan pasien. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan budaya keselamatan pasien sebagai dasar penyusunan strategi peningkatan keselamatan pasien Tujuan: Menganalisis gambaran budaya keselamatan pasien dan faktor-faktor yang berhubungan dengan budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta Tahun 2025 Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data survei tahun 2025. Penelitian dilakukan pada 655 tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan di RSPON Mahar Mardjono. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) 2.0 yang sudah disesuaikan oleh kementrian kesehatan. Analisis data meliputi analisis deskriptif, bivariat menggunakan uji t independen dan One Way ANOVA, serta analisis multivariat menggunakan regresi linear berganda. Hasil: Mayoritas responden berusia 30–40 tahun (52,5%), berjenis kelamin perempuan (55,6%), dan bekerja lebih dari 10 tahun di rumah sakit (39,2%). Dimensi budaya keselamatan pasien dengan skor positif tertinggi adalah kerja sama tim dalam unit (86,0%), pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan (79,7%), serta umpan balik dan komunikasi mengenai kesalahan (78,4%). Dimensi dengan skor terendah adalah pengaturan staf dan beban kerja (21,3%) serta frekuensi pelaporan kejadian keselamatan pasien (45,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara usia, pendidikan, profesi, unit kerja, dan kontak pasien dengan budaya keselamatan pasien (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa pendidikan, profesi, unit kerja, dan kontak pasien berhubungan secara signifikan dengan budaya keselamatan pasien. Profesi perawat merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan budaya keselamatan pasien (β=-0,283; p<0,001). Kesimpulan: Budaya keselamatan pasien di rumah sakit berada pada kategori cukup baik dengan kekuatan utama pada dimensi kerja sama tim dalam unit, pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan, serta umpan balik dan komunikasi terkait kesalahan. Sebaliknya, dimensi pengaturan staf dan beban kerja serta frekuensi pelaporan insiden merupakan area yang paling lemah dan perlu menjadi fokus intervensi perbaikan. Pendidikan, profesi, unit kerja, dan kontak pasien terbukti berhubungan dengan budaya keselamatan pasien. Penguatan sistem pelaporan insiden, penerapan Just Culture, pengembangan kompetensi tenaga kesehatan, dan pengelolaan beban kerja yang optimal diharapkan dapat meningkatkan budaya keselamatan pasien di rumah sakit.

Background: Patient safety culture is an essential component of healthcare quality improvement and patient safety incident prevention in hospitals. A strong safety culture promotes a safe working environment, improves healthcare quality, and minimizes adverse events. Therefore, identifying factors associated with patient safety culture is important for developing effective patient safety improvement strategies. Objective: To analyze patient safety culture and the factors associated with patient safety culture in a hospital setting. Methods: This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 655 healthcare and non-healthcare workers participated in the study. Data were collected using the Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) version 2.0 questionnaire. Data were analyzed using descriptive statistics, independent t-test and One-Way ANOVA for bivariate analysis, and multiple linear regression for multivariate analysis. Results: Most respondents were aged 30–40 years (52.5%), female (55.6%), and had worked in the hospital for more than 10 years (39.2%). The highest positive patient safety culture dimensions were teamwork within units (86.0%), organizational learning and continuous improvement (79.7%), and feedback and communication about errors (78.4%). The lowest-scoring dimensions were staffing and work pace (21.3%) and frequency of event reporting (45.3%). Bivariate analysis revealed significant associations between age, education level, profession, work unit, patient contact, and patient safety culture (p<0.05). Multivariate analysis showed that education level, profession, work unit, and patient contact remained significantly associated with patient safety culture. Nursing profession was identified as the most dominant factor associated with patient safety culture (β=-0.283; p<0.001). Conclusion: Patient safety culture in the hospital was categorized as moderately positive, with teamwork within units, organizational learning and continuous improvement, and feedback and communication about errors identified as the strongest dimensions. In contrast, staffing and work pace as well as frequency of event reporting were the weakest dimensions and represent key areas for improvement. Education level, profession, work unit, and patient contact were significantly associated with patient safety culture. Strengthening incident reporting systems, promoting a Just Culture approach, enhancing staff competencies, and optimizing workload management are essential strategies to improve patient safety culture in hospitals.