Abstrak
Gangguan pendengaran akibat bising kerja (Occupational Noise-Induced Hearing Loss/ONIHL) masih menjadi masalah kesehatan kerja utama di industri minyak dan gas. Pemeriksaan audiometri konvensional berbasis Air Conduction (AC) sering kali kurang sensitif dalam mendeteksi kerusakan koklea tahap awal sehingga diperlukan pendekatan diagnostik yang lebih komprehensif. Penelitian ini bertuuan untuk menganalisis faktor individu dan lingkungan kerja yang berhubungan dengan Sensorineural Hearing Loss (SNHL) serta mengembangkan model prediksi risiko SNHL pada pekerja sektor migas. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder 497 pekerja yang terpajan bising di sektor migas Kalimantan Timur periode 2021–2022. Penetapan SNHL dilakukan melalui integrasi parameter Air Conduction (AC), Bone Conduction (BC), Air-Bone Gap (AB-Gaps), Standard Threshold Shift (STS), dan pola audiometric notch. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik bivariat dan multivariat dengan metode enter dan stepwise. Sebanyak 99 pekerja (19,9%) teridentifikasi mengalami SNHL, 31 pekerja (6,2%) mengalami Conductive Hearing Loss (CHL), dan 151 pekerja (43,6%) memiliki audiometric notch pada frekuensi 4.000 Hz. Faktor yang berhubungan signifikan dengan SNHL pada model akhir adalah usia ≥41 tahun (AOR=9,09; 95%CI: 2,28–36,21; p=0,002), hipertensi stadium 1 (AOR=1,98; 95%CI: 1,05–3,75; p=0,035), serta masa kerja 5–15 tahun yang bersifat protektif dibandingkan masa kerja >15 tahun (AOR=0,20; 95%CI: 0,09–0,45; p<0,001). Variabel dosis personal kebisingan, frekuensi bising, penggunaan alat pelindung pendengaran, diabetes melitus, hobi bising, dan pajanan benzena tidak menunjukkan hubungan signifikan pada model multivariat. Model prediksi risiko SNHL yang dikembangkan menunjukkan probabilitas risiko tertinggi mencapai 81,5%. Prevalensi SNHL pada pekerja sektor migas mencapai 19,9%. Usia ≥41 tahun dan hipertensi stadium 1 merupakan faktor risiko independen utama, sedangkan masa kerja >15 tahun mencerminkan akumulasi pajanan yang meningkatkan risiko SNHL. Pendekatan audiometri multi-parameter terbukti lebih sensitif dalam mendeteksi kerusakan pendengaran dini dan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan program konservasi pendengaran berbasis risiko di lingkungan kerja.
Occupational Noise-Induced Hearing Loss (ONIHL) remains one of the leading occupational health problems in the oil and gas industry. Conventional audiometric examinations based on Air Conduction (AC) are often insufficiently sensitive to detect early cochlear damage, highlighting the need for a more comprehensive diagnostic approach. This study aimed to identify individual and occupational factors associated with Sensorineural Hearing Loss (SNHL) and to develop a predictive risk model for SNHL among oil and gas workers. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using secondary data from 497 noise-exposed workers in East Kalimantan, Indonesia, collected between 2021 and 2022. SNHL was determined through an integrated assessment of Air Conduction (AC), Bone Conduction (BC), Air-Bone Gap (AB-Gaps), Standard Threshold Shift (STS), and audiometric notch patterns. Data were analyzed using bivariate and multivariate logistic regression with enter and stepwise methods. A total of 99 workers (19.9%) were diagnosed with SNHL, 31 (6.2%) with Conductive Hearing Loss (CHL), and 151 (43.6%) exhibited an audiometric notch at 4,000 Hz. Significant predictors of SNHL included age ≥41 years (AOR = 9.09; 95% CI: 2.28–36.21), stage 1 hypertension (AOR = 1.98; 95% CI: 1.05–3.75), while 5–15 years of employment was protective compared with employment duration >15 years (AOR = 0.20; 95% CI: 0.09–0.45). Personal noise dose, noise frequency, hearing protection use, diabetes mellitus, noisy hobbies, and benzene exposure were not significantly associated with SNHL. The developed prediction model demonstrated a maximum estimated SNHL probability of 81.5%. A multi-parameter audiometric approach was more sensitive for detecting early hearing impairment and may serve as a valuable basis for developing risk-based hearing conservation programs in the oil and gas industry.