Abstrak
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berkontribusi terhadap penggunaan antibiotik tidak rasional dan peningkatan risiko resistensi antimikroba. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Maluku Utara memiliki proporsi perolehan antibiotik tanpa resep dokter sebesar 77,9%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor predisposing, enabling, dan need dengan perilaku penggunaan antibiotik pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi Maluku Utara berdasarkan Andersen Behavioral Model. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder SKI 2023. Analisis dilakukan pada penduduk usia ≥15 tahun yang menggunakan antibiotik oral dalam satu tahun terakhir. Variabel dependen adalah cara perolehan antibiotik, sedangkan variabel independen meliputi faktor predisposing, enabling, dan need. Analisis data menggunakan pendekatan complex sample analysis melalui uji univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan cara perolehan antibiotik berbeda antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada wilayah perkotaan, faktor yang berhubungan pada model final hanya sumber perolehan antibiotik. Sementara itu, pada wilayah perdesaan, faktor yang berhubungan meliputi sumber perolehan antibiotik dan keluhan kesehatan. Secara keseluruhan, faktor enabling, khususnya sumber perolehan antibiotik, merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan cara perolehan antibiotik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perolehan antibiotik tanpa resep masih lebih banyak ditemukan pada kelompok yang memperoleh antibiotik melalui sumber nonformal dan dipengaruhi oleh karakteristik individu serta akses pelayanan kesehatan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan tata kelola distribusi antibiotik, peningkatan pengawasan pada fasilitas pelayanan kesehatan formal dan nonformal, serta pengembangan strategi edukasi yang sesuai dengan karakteristik kelompok sasaran guna mendukung penggunaan antibiotik yang rasional.
The use of antibiotics without a doctor’s prescription remains a public health problem that contributes to irrational antibiotic use and increases the risk of antimicrobial resistance. Based on the 2023 Indonesian Health Survey, North Maluku Province had a proportion of non-prescription antibiotic acquisition of 77.9%, which was higher than the national average. This study aimed to analyze the association between predisposing, enabling, and need factors and antibiotic use behavior among individuals aged ≥15 years in North Maluku Province based on the Andersen Behavioral Model. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The analysis was conducted among individuals aged ≥15 years who had used oral antibiotics within the past year. The dependent variable was the method of antibiotic acquisition, while the independent variables included predisposing, enabling, and need factors. Data analysis was performed using a complex sample analysis approach through univariate, bivariate, and multivariate analyses. The results showed that factors associated with the method of antibiotic acquisition differed between urban and rural areas. In urban areas, the only factor associated in the final model was the source of antibiotic acquisition. Meanwhile, in rural areas, the associated factors included the source of antibiotic acquisition and health complaints. Overall, enabling factors, particularly the source of antibiotic acquisition, emerged as the most dominant factors associated with the mode of antibiotic acquisition. The findings demonstrated that obtaining antibiotics without a prescription was more prevalent among individuals who acquired antibiotics through informal sources and was influenced by individual characteristics as well as access to healthcare services. These results highlight the need to strengthen antibiotic distribution governance, enhance supervision of both formal and informal healthcare facilities, and develop educational strategies tailored to the characteristics of target populations in order to promote the rational use of antibiotics.