Abstrak
Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan salah satu penyakit katastropik dengan beban pembiayaan yang terus meningkat dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hemodialisis sebagai terapi pengganti ginjal menjadi layanan dengan utilisasi dan biaya yang tinggi sehingga diperlukan informasi mengenai tren pemanfaatannya sebagai dasar perencanaan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren utilisasi pelayanan hemodialisis pada peserta JKN tahun 2020–2023 berdasarkan jumlah kunjungan, karakteristik peserta, dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Penelitian menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2020–2023. Sampel penelitian adalah peserta JKN dengan diagnosis Penyakit Ginjal Kronis (ICD-10 N18) yang menjalani tindakan hemodialisis (ICD-9-CM 39.95). Analisis dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi utilisasi layanan dan karakteristik peserta, serta analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk menilai perubahan distribusi karakteristik antar tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah peserta hemodialisis meningkat dari 1.122 peserta pada tahun 2020 menjadi 1.515 peserta pada tahun 2023, sedangkan jumlah kunjungan meningkat dari 8.823 menjadi 10.855 kunjungan atau sekitar 23,0% selama periode penelitian. Peserta hemodialisis didominasi oleh laki-laki, kelompok usia dewasa (18–59 tahun), peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), penduduk Regional I (Pulau Jawa), pengguna rumah sakit swasta, serta peserta kelas rawat III. Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat perubahan distribusi yang bermakna pada segmentasi kepesertaan, wilayah tempat tinggal, tipe FKRTL, kepemilikan FKRTL, dan kelas rawat (p<0,05), sedangkan jenis kelamin dan kelompok usia tidak menunjukkan perubahan yang bermakna. Penelitian ini menyimpulkan bahwa utilisasi pelayanan hemodialisis pada peserta JKN menunjukkan kecenderungan meningkat selama periode 2020–2023. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan upaya pencegahan dan deteksi dini PGK, pemerataan akses layanan hemodialisis, serta perencanaan kapasitas fasilitas kesehatan dan pembiayaan JKN untuk mendukung keberlanjutan pelayanan penyakit katastropik.
Chronic Kidney Disease (CKD) is one of the catastrophic diseases that imposes a substantial financial burden on Indonesia's National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional/JKN). Hemodialysis, as the most commonly used kidney replacement therapy, requires continuous treatment and contributes significantly to healthcare utilization and expenditure. Therefore, understanding utilization trends is essential to support healthcare planning and resource allocation. This study aimed to analyze trends in hemodialysis service utilization among JKN beneficiaries from 2020 to 2023 based on service volume, participant characteristics, and characteristics of Advanced Referral Healthcare Facilities (Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut/FKRTL). This descriptive study employed a repeated cross-sectional approach using secondary data from the BPJS Kesehatan Sample Data for the period 2020–2023. The study population consisted of JKN beneficiaries diagnosed with Chronic Kidney Disease (ICD-10 N18) who received hemodialysis procedures (ICD-9-CM 39.95). Data were analyzed using descriptive statistics to describe utilization patterns and participant characteristics, while the chi-square test was performed to examine differences in participant and healthcare facility characteristics across the study period. The results showed that the number of hemodialysis patients increased from 1,122 in 2020 to 1,515 in 2023, while the total number of hemodialysis visits increased from 8,823 to 10,855 visits, representing a 23.0% increase over the study period. Hemodialysis utilization was predominantly observed among male participants, adults aged 18–59 years, Non-Wage Earner (PBPU) beneficiaries, residents of Java, patients receiving care at private hospitals, and those utilizing Class III inpatient services. Significant changes were observed in participant segmentation, province of residence, healthcare facility type, ownership, and inpatient class (p<0.05), whereas sex and age group distributions remained relatively stable throughout the study period. In conclusion, hemodialysis service utilization among JKN beneficiaries showed an increasing trend between 2020 and 2023. These findings highlight the need to strengthen CKD prevention and early detection strategies, improve equitable access to hemodialysis services, and optimize healthcare capacity and JKN financing to ensure the sustainability of catastrophic disease services in Indonesia.