Abstrak
Prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia 48,9% lebih tinggi dibandingkan prevalensi global sebesar 40%. Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena dikaitkan dengan peningkatan kejadian perdarahan post partum yang menjadi penyebab kematian ibu dan kelahiran bayi dengan BBLR yang menjadi penyebab kematian bayi. Banten merupakan provinsi terbesar keempat penyumbang kematian ibu, dimana kabupaten Tangerang menyumbang kejadian kematian yang signifikan. Puskesmas Cisoka mencatat sebesar 84,6% dari penderita anemia di wilayahnya adalah ibu hamil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar prevalensi anemia pada ibu hamil dan gambaran kejadian anemia pada Ibu hamil di Puskesmas Cisoka Tahun 2022 hingga 2025 berdasarkan variabel usia ibu, paritas, KEK, usia kehamilan, pekerjaan, dan pendidikan. Desain studi cross sectional deskriptif dengan analisis univariat menggunakan data sekunder yang berasal dari register, kohort dan rekam medis ibu hamil. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 1.465 tahun 2022, 1.628 tahun 2023, 1.404 tahun 2024, 1.648 tahun 2025. Hasil Penelitian menunjukkan prevalensi anemia menurun tiap tahunnya, 46% pada 2022, 35% pada 2023, 24% pada 2024, 21% pada 2025. Berdasarkan persentase anemia tertinggi konsisten terjadi tiap tahun pada kategori usia 35 tahun, nullipara dan primipara, ibu hamil dengan LILA <23,5, dan ibu hamil trimester 3, Sedangkan pada variabel pendidikan tahun 2022 persentase tertinggi pada pendidikan tinggi, 2023-2025 pada pendidikan rendah. Pada variabel pekerjaan anemia dengan persentase tertinggi 2022 pada ibu bekerja, 2023-2025 pada ibu hamil tidak bekerja. Saran agar puskemas dapat melakukan edukasi yang intensif pada kelompok berisiko, bekerja sama dengan kader setempat untuk melakukan pemantauan kepatuhan konsumsi tablet Fe pada ibu hamil serta memaksimalkan kelas ibu hamil sebagai cara untuk meningkatkan pengetahuan mengenai anemia.
The prevalence of anemia among pregnant women in Indonesia is 48.9%, which is higher than the global prevalence of 40%. Anemia remains a significant public health problem because it is associated with an increased incidence of postpartum hemorrhage a leading cause of maternal mortality and the birth of low birth weight (LBW) infants, a leading cause of infant mortality. Banten is the fourth largest province in terms of maternal mortality, with Tangerang Regency accounting for a significant number of these deaths. The Cisoka Community Health Center (Puskesmas) reports that 84.6% of anemia cases in its service area are among pregnant women. The objective of this study is to determine the prevalence of anemia among pregnant women and to describe the incidence of anemia among pregnant women at the Cisoka Community Health Center from 2022 to 2025 based on the variables of maternal age, parity, energy nutrient deficiency (KEK), gestational age, occupation, and education. A descriptive cross sectional study design with univariate analysis was employed, using secondary data derived from registries, cohorts, and medical records of pregnant women. The sample sizes for this study were 1,465 in 2022, 1,628 in 2023, 1,404 in 2024, and 1,648 in 2025. The results showed that the prevalence of anemia decreased each year: 46% in 2022, 35% in 2023, 24% in 2024, and 21% in 2025. Based on the data, the highest prevalence of anemia consistently occurred each year in the age categories 35 years, among nulliparous and primiparous women, pregnant women with a mid-upper arm circumference (MUAC) <23.5, and pregnant women in their third trimester. Meanwhile, for the education variable, the highest percentage in 2022 was among those with a higher education, while from 2023 to 2025, it was among those with a lower level of education. Regarding the occupation variable, the highest percentage of anemia in 2022 was among working mothers, while from 2023 to 2025, it was among non-working pregnant women. It is recommended that community health centers (puskesmas) conduct intensive education for at-risk groups, collaborate with local health volunteers to monitor compliance with iron tablet intake among pregnant women, and maximize the use of prenatal classes as a means to increase knowledge about anemia.