Abstrak
Obesitas sentral merupakan penumpukan lemak berlebih di area abdomen yang menggambarkan akumulasi lemak viseral dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Provinsi Kalimantan Timur memiliki prevalensi obesitas sentral yang konsisten berada di atas angka nasional sejak 2007 dan pada tahun 2023 kembali meningkat hingga 43,6%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur menggunakan desain studi cross-sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥20 tahun di Provinsi Kalimantan Timur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 8.544 responden. Variabel dependen adalah obesitas sentral, sedangkan variabel independen meliputi faktor sosiodemografi, gaya hidup, pola konsumsi, dan status gizi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan Rao-Scott Adjusted Chi-Square, dan multivariat menggunakan Complex Samples Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi obesitas sentral keseluruhan sebesar 46,0%, dengan prevalensi pada perempuan sebesar 66,0% dan laki-laki sebesar 30,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur berhubungan dengan obesitas sentral. Perempuan memiliki peluang 3,924 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan laki-laki (AOR=3,924; 95% CI: 3,352–4,594). Dibandingkan kelompok usia 20–24 tahun, peluang obesitas sentral lebih besar pada kelompok usia 25–34 tahun (AOR=1,984; 95% CI: 1,490–2,641), 35–44 tahun (AOR=2,411; 95% CI: 1,808–3,215), 45–54 tahun (AOR=3,158; 95% CI: 2,373–4,204), 55–64 tahun (AOR=2,801; 95% CI: 2,083–3,768), dan ≥65 tahun (AOR=1,879; 95% CI: 1,319–2,675). Responden yang menikah memiliki peluang 1,234 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan yang tidak menikah (AOR=1,234; 95% CI: 1,029–1,480). Responden di wilayah perkotaan memiliki peluang 1,586 kali lebih besar mengalami obesitas sentral dibandingkan perdesaan (AOR=1,586; 95% CI: 1,344–1,871). Perokok aktif memiliki peluang lebih rendah mengalami obesitas sentral dibandingkan bukan perokok (AOR=0,779; 95% CI: 0,633–0,957). Konsumsi sayur yang tidak cukup meningkatkan peluang obesitas sentral sebesar 1,291 kali dibandingkan konsumsi sayur cukup (AOR=1,291; 95% CI: 1,047–1,592). Terdapat interaksi bermakna antara jenis kelamin dengan usia (p<0,001), jenis kelamin dengan status perkawinan (p=0,004), jenis kelamin dengan wilayah tempat tinggal (p<0,001), usia dengan status perkawinan (p=0,017), usia dengan konsumsi sayur (p=0,007), status perkawinan dengan konsumsi sayur (p=0,014), serta wilayah tempat tinggal dengan perilaku merokok (p=0,015). Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral dalam model akhir meliputi jenis kelamin, usia, status perkawinan, wilayah tempat tinggal, perilaku merokok, dan konsumsi sayur, dengan jenis kelamin perempuan sebagai faktor dominan.
Central obesity is the accumulation of excess fat in the abdominal area, which reflects visceral fat accumulation and is associated with an increased risk of noncommunicable diseases. This study aimed to identify the dominant factors associated with central obesity among residents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province, employing a cross-sectional study design based on secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI 2023). The study sample comprised 8,544 respondents aged ≥20 years in Kalimantan Timur Province who met the inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was central obesity, while independent variables encompassed sociodemographic factors, lifestyle behaviors, dietary consumption patterns, and nutritional status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Rao-Scott Adjusted Chi-Square), and multivariate (Complex Samples Logistic Regression) approaches. The findings revealed an overall prevalence of central obesity of 46.0%, with prevalence among females at 66.0% and among males at 30.8%. Multivariate analysis demonstrated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were significantly associated with central obesity. Females had 3.924 times greater odds of experiencing central obesity compared to males (AOR=3.924; 95% CI: 3.352–4.594). Relative to the 20–24 year age group, the odds of central obesity were higher among those aged 25–34 years (AOR=1.984; 95% CI: 1.490–2.641), 35–44 years (AOR=2.411; 95% CI: 1.808–3.215), 45–54 years (AOR=3.158; 95% CI: 2.373–4.204), 55–64 years (AOR=2.801; 95% CI: 2.083–3.768), and ≥65 years (AOR=1.879; 95% CI: 1.319–2.675). Married respondents had 1.234 times greater odds of central obesity compared to unmarried respondents (AOR=1.234; 95% CI: 1.029–1.480). Respondents residing in urban areas had 1.586 times greater odds of central obesity compared to those in rural areas (AOR=1.586; 95% CI: 1.344–1.871). Active smokers had significantly lower odds of central obesity compared to non-smokers (AOR=0.779; 95% CI: 0.633–0.957). Insufficient vegetable consumption was associated with 1.291 times greater odds of central obesity compared to adequate consumption (AOR=1.291; 95% CI: 1.047–1.592). Significant interaction effects were identified between sex and age (p<0.001), sex and marital status (p=0.004), sex and area of residence (p<0.001), age and marital status (p=0.017), age and vegetable consumption (p=0.007), marital status and vegetable consumption (p=0.014), and area of residence and smoking behavior (p=0.015).. The final model indicated that sex, age, marital status, area of residence, smoking behavior, and vegetable consumption were associated with central obesity, with female sex identified as the dominant factor.