Abstrak
Puskesmas memiliki peran strategis sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan primer yang mendukung pencapaian target pembangunan kesehatan. Keterbatasan sumber daya serta meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan menuntut pengelolaan sumber daya yang efisien. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi teknis, perubahan produktivitas, dan faktor yang berhubungan dengan efisiensi Puskesmas di Provinsi DKI Jakarta periode 2022–2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif longitudinal terhadap 44 Puskesmas dengan pendekatan two-stage method Data Envelopment Analysis (DEA) berorientasi input dengan asumsi Variable Returns to Scale (VRS), Malmquist Productivity Index (MPI), dan regresi Tobit. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,94, yang mengindikasikan tingkat efisiensi yang relatif tinggi dengan peluang peningkatan efisiensi sebesar 6%. Sebagian besar Puskesmas berada pada kondisi Increasing Returns to Scale sehingga masih memiliki peluang meningkatkan output pelayanan melalui optimalisasi kapasitas operasional. Analisis MPI menunjukkan peningkatan produktivitas dengan nilai rata-rata Total Factor Productivity (TFP) sebesar 1,27 yang terutama didorong oleh perubahan teknologi (Technological Change=1,28), sementara perubahan efisiensi relatif stabil (Efficiency Change=1,00). Hasil regresi Tobit menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan proporsi penduduk usia produktif berhubungan negatif signifikan dengan efisiensi, sedangkan proporsi BLUD berhubungan positif signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Puskesmas di Provinsi DKI Jakarta menunjukkan kinerja efisiensi dan produktivitas yang relatif baik, dengan peningkatan produktivitas yang terutama didorong oleh kemajuan teknologi serta didukung oleh fleksibilitas pengelolaan keuangan melalui mekanisme BLUD.
Community Health Centers (Puskesmas) play a strategic role in delivering primary healthcare services and supporting national health development goals. Increasing healthcare demands and limited resources have heightened the need for efficient resource utilization. This study aimed to examine the technical efficiency, productivity changes, and determinants of efficiency among Puskesmas in the Province of DKI Jakarta during 2022–2024. A longitudinal quantitative design was employed involving 44 Puskesmas. A two-stage approach was applied using input-oriented Data Envelopment Analysis (DEA) under the Variable Returns to Scale (VRS) assumption, followed by Malmquist Productivity Index (MPI) analysis and Tobit regression. The results showed an average technical efficiency score of 0.94, indicating a relatively high level of efficiency with an improvement potential of 6%. Most Puskesmas operated under Increasing Returns to Scale, suggesting opportunities to enhance service outputs through better utilization of operational capacity. MPI analysis revealed productivity growth, with an average Total Factor Productivity (TFP) index of 1.27. The increase was primarily driven by technological progress (Technological Change = 1.28), while efficiency change remained stable (Efficiency Change = 1.00). Tobit regression analysis demonstrated that population density and the proportion of the productive-age population were significantly associated with lower efficiency, whereas the proportion of funding managed under the Regional Public Service Agency (BLUD) scheme was positively associated with efficiency. In conclusion, Puskesmas in DKI Jakarta demonstrated relatively strong efficiency and productivity performance. Productivity gains were largely driven by technological advancement and supported by greater financial management flexibility through the BLUD financing mechanism.