Abstrak
Anemia pada masa menyusui merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat berdampak tidak hanya pada ibu, tetapi juga pada bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status anemia ibu menyusui di Puskesmas Terpilih di Wilayah Kota dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik dengan desain kohort retrospektif dan menggunakan data sekunder. Sampel penelitian adalah ibu menyusui dengan usia bayi 0–3 bulan yang berjumlah 120 ibu menyusui berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Analisis data terdiri dari analisis univariat, bivariat, dan multivariat berdasarkan masing-masing wilayah. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa rata-rata kadar Hb ibu menyusui di Kabupaten Bogor adalah 12,0 g/dL dan di Kota Bogor 12,3 g/dL. Proporsi ibu menyusui yang mengalami anemia secara keseluruhan sebesar 50,8%, dengan proporsi lebih tinggi di Kabupaten Bogor sebesar 56,1% dibandingkan Kota Bogor sebesar 46,0%. Hasil analisis bivariat secara keseluruhan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan energi (p value = 0,018; OR = 2,418; 95% CI: 1,157–5,052), asupan protein (p value = 0,029; OR = 2,257; 95% CI: 1,082–4,711), asupan Fe (p value = 0,034; OR = 3,165; 95% CI: 1,051–9,534), dan riwayat anemia saat hamil (p value = 0,007; OR = 2,839; 95% CI: 1,312–6,141) dengan status anemia ibu menyusui. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan yang berhubungan dengan anemia ibu menyusui di Kabupaten Bogor adalah asupan energi, yaitu ibu menyusui dengan asupan energi kurang berisiko 11,440 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan ibu menyusui dengan asupan energi tidak kurang setelah dikontrol oleh variabel lain. Secara keseluruhan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor, faktor dominan yang berhubungan dengan anemia ibu menyusui adalah asupan Fe, yaitu ibu menyusui dengan asupan Fe kurang berisiko 3,799 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan ibu menyusui dengan asupan Fe tidak kurang setelah dikontrol oleh asupan energi, asupan protein, riwayat anemia saat hamil, dan wilayah tempat tinggal. Oleh karena itu, diperlukan penguatan skrining anemia sejak kehamilan hingga masa menyusui, pemantauan kadar Hb ibu menyusui, peningkatan edukasi konsumsi makanan bergizi agar kebutuhan gizi ibu dapat terpenuhi selama masa menyusui

Anemia during breastfeeding is a public health issue that can affect not only the mother but also the infant. This study aims to identify factors associated with anemia status among breastfeeding mothers at selected health centers in the City and Regency of Bogor, West Java, in 2025. This study is a quantitative observational analytical study with a retrospective cohort design using secondary data. The study sample consisted of 120 breastfeeding mothers with infants aged 0–3 months, selected based on established inclusion and exclusion criteria. Data analysis included univariate, bivariate, and multivariate analyses for each region. The results of the univariate analysis showed that the average Hb level of breastfeeding mothers in Bogor Regency was 12.0 g/dL and in Bogor City 12.3 g/dL. The overall proportion of breastfeeding mothers with anemia was 50.8%, with a higher proportion in Bogor Regency at 56.1% compared to Bogor City at 46.0%. Overall bivariate analysis results in the City and Regency of Bogor showed a significant association between energy intake (p-value = 0.018; OR = 2.418; 95% CI: 1.157–5.052), protein intake (p-value = 0.029; OR = 2.257; 95% CI: 1.082–4.711), iron intake (p-value = 0.034; OR = 3.165; 95% CI: 1.051–9.534), and a history of anemia during pregnancy (p-value = 0.007; OR = 2.839; 95% CI: 1.312–6.141) and the anemia status of breastfeeding mothers. Multivariate analysis results indicate that the dominant factor associated with anemia in breastfeeding mothers in Bogor Regency is energy intake; specifically, breastfeeding mothers with inadequate energy intake are 11.440 times more likely to experience anemia compared to those with adequate energy intake, after controlling for other variables. Overall, in the City and Regency of Bogor, the dominant factor associated with anemia in breastfeeding mothers was iron intake; specifically, breastfeeding mothers with insufficient iron intake were 3.799 times more likely to experience anemia compared to those with adequate iron intake, after controlling for energy intake, protein intake, history of anemia during pregnancy, and residential area. Therefore, it is necessary to strengthen anemia screening from pregnancy through the breastfeeding period, monitor breastfeeding mothers’ Hb levels, and improve education on nutritious food consumption to ensure that mothers’ nutritional needs are met during the breastfeeding period.