Abstrak
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi yang memerlukan pemantauan dan pengobatan secara berkelanjutan melalui layanan kesehatan. Provinsi Jawa Barat memiliki prevalensi hipertensi yang tinggi, yaitu sebesar 34,4% berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah dan 10,7% berdasarkan diagnosis dokter. Meskipun demikian, pemanfaatan layanan kesehatan primer pada penderita hipertensi masih belum optimal dan menunjukkan adanya kesenjangan antar kelompok masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan kesehatan primer serta ketimpangan pemanfaatannya pada penderita hipertensi usia ≥18 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan uji chi-square, multivariat menggunakan regresi logistik ganda, serta analisis ketimpangan menggunakan Concentration Index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4.357 penderita hipertensi usia ≥18 tahun, sebanyak 40,6% memanfaatkan layanan kesehatan primer dan 59,4% tidak memanfaatkannya. Faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan layanan kesehatan primer meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, kepemilikan jaminan kesehatan, status sosial ekonomi, komorbiditas, dan status gizi (IMT). Analisis ketimpangan menunjukkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan primer masih terkonsentrasi pada kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi (pro-rich). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan primer pada penderita hipertensi di Jawa Barat masih rendah dan belum merata. Oleh karena itu, diperlukan optimalisasi pelaksanaan skrining dan pemantauan hipertensi secara berkala, penguatan edukasi kesehatan, serta perluasan cakupan kepesertaan jaminan kesehatan untuk meningkatkan pemerataan pemanfaatan layanan kesehatan primer.

Hypertension is one of the most prevalent non-communicable diseases and requires continuous monitoring and long-term treatment through health care services. West Java has a high prevalence of hypertension, with 34.4% based on blood pressure measurements and 10.7% based on physician diagnosis. However, the utilization of primary health care services among patients with hypertension remains suboptimal and unequally distributed. This study aimed to analyze the determinants of primary health care utilization and socioeconomic inequality among adults aged ≥18 years with hypertension in West Java. This cross-sectional study used data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia [SKI]). Data were analyzed using frequency distributions, chi-square tests, multiple logistic regression, and the Concentration Index. Among 4,357 adults with hypertension, 40.6% utilized primary health care services, while 59.4% did not. Factors significantly associated with primary health care utilization were age, sex, educational level, health insurance coverage, socioeconomic status, comorbidity, and body mass index (BMI). The Concentration Index indicated that primary health care utilization was disproportionately concentrated among individuals with higher socioeconomic status (pro-rich). In conclusion, primary health care utilization among patients with hypertension in West Java remains low and unequally distributed. Strengthening regular hypertension screening and follow-up, improving health education, and expanding health insurance coverage are needed to promote equitable utilization of primary health care services.