Abstrak
<div style="text-align: justify;">Karakteristik diet modern erat kaitannya dengan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), seperti makanan ringan kemasan, makanan cepat saji, serta minuman berpemanis. Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan konsumsi GGL berlebih sebesar 37,2%, sementara Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat proporsi penduduk yang melampaui batas anjuran konsumsi GGL sebesar 33,8%. Asupan GGL yang berlebih dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular serta memicu kondisi pre-sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara literasi kesehatan diet digital, jenis kelamin, uang saku, emotional eating, pengaruh teman sebaya, pengaruh orang tua, paparan media sosial, aksesibilitas, dan persepsi harga dengan asupan gula, garam, dan lemak pada siswa SMAN 81 Jakarta tahun 2026. Penelitian menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan data primer yang dikumpulkan dari 143 responden siswa kelas X dan XI. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 54,5% siswa memiliki asupan GGL kategori tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan diet digital, pengaruh teman sebaya, dan paparan media sosial dengan asupan GGL, sedangkan emotional eating, pengaruh orang tua, aksesibilitas makanan, dan persepsi harga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan pembentukan peer educator, pemanfaatan media sosial sekolah sebagai sarana edukasi GGL, penyelenggaraan kampanye dan kompetisi digital, serta kerja sama dengan puskesmas setempat.</div><hr /><div style="text-align: justify;">The characteristics of the modern diet are closely associated with the consumption of foods and beverages high in sugar, salt, and fat (SSF), such as packaged snacks, fast food, and sugar-sweetened beverages. The 2018 Basic Health Research (Riskesdas) showed that excessive SSF consumption reached 37.2%, while the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) recorded that the proportion of the population exceeding the recommended SSF intake limit was 33.8%. Excessive SSF intake can increase the risk of non-communicable diseases (NCDs) and trigger a pre-metabolic syndrome condition. This study aimed to analyze the association of digital dietary health literacy, sex, pocket money, emotional eating, peer influence, parental influence, social media exposure, food accessibility, and price perception with sugar, salt, and fat intake among students of SMAN 81 Jakarta in 2026. This study employed a cross-sectional design using primary data collected from 143 student respondents in grades X and XI. The results showed that 54.5% of students had a high level of SSF intake. There were significant relationships between digital dietary health literacy, peer influence, and social media exposure and SSF intake, whereas emotional eating, parental influence, food accessibility, and price perception showed no significant relationship. Based on these findings, it is recommended to establish peer educators, utilize the school's social media as a means of SSF education, organize digital campaigns and competitions, and collaborate with the local community health center (puskesmas).</div>