Abstrak
Sindrom metabolik merupakan kumpulan kelainan metabolik yang terdiri dari obesitas abdominal, hiperglikemia, dislipidemia, dan hipertensi yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, serta mortalitas dini. Sindrom metabolik menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena berkontribusi terhadap peningkatan beban penyakit tidak menular secara global, termasuk di Indonesia, dengan prevalensi pada populasi usia ≥15 tahun mencapai sekitar 32% pda tahun 2018 dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang berhubungan dengan kejadian sindrom metabolik pada penduduk Indonesia usia ≥15 tahun dengan menganalisis data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dan menentukan faktor dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi sindrom metabolik pada populasi adalah sebesar 38,4%. Variabel yang berhubungan signifikan dengan sindrom metabolik adalah usia, jenis kelamin, dan status gizi (IMT). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah status gizi, di mana dibandingkan dengan responden dengan status gizi normal, responden dengan berat badan kurang memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami sindrom metabolik (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), sedangkan responden dengan berat badan berlebih memiliki peluang 2,510 kali lebih besar (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939), kemudian meningkat pada obesitas tingkat I dengan peluang 5,864 kali (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), serta obesitas tingkat II dengan peluang 12,670 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik dibandingkan status gizi normal (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).

Metabolic syndrome is a cluster of metabolic abnormalities characterized by abdominal obesity, hyperglycemia, dyslipidemia, and hypertension, which collectively increase the risk of cardiovascular disease, type 2 diabetes mellitus, and premature mortality. It has become a major public health concern due to its contribution to the growing burden of non-communicable diseases globally, including in Indonesia, where the prevalence among individuals aged ≥15 years was reported to be around 32% in 2018, showing an increasing trend compared to previous years. This study aimed to identify the main factors associated with metabolic syndrome among the Indonesian population aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). Data were analyzed using chi-square tests and logistic regression to determine associated factors and identify the dominant determinant. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome among the population was 38.4%. Variables significantly associated with metabolic syndrome included age, sex, and nutritional status (BMI). The most dominant factor was nutritional status, where compared to individuals with normal BMI, underweight respondents had a lower likelihood of developing metabolic syndrome (AOR = 0,486; 95% CI: 0,369–0,641), while overweight respondents had 2.510 times higher odds (AOR = 2,510; 95% CI: 2,145–2,939). The risk further increased among individuals with class I obesity, who had 5.864 times higher odds (AOR = 5,864; 95% CI: 5,122–6,714), and class II obesity, who had 12.670 times higher odds of experiencing metabolic syndrome compared to those with normal BMI (AOR = 12,670; 95% CI: 10,280–15,616).