Abstrak
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam waktu lama. Stunting pada baduta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor anak, ibu, pola asuh maupun lingkungan. Provinsi Bali merupakan provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia, namun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta di Bali masih perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional dengan analisis data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Sampel penelitian berjumlah 549 baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik kompleks. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor anak, ibu, praktik pola asuh, dan lingkungan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p > 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan stunting. Anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang mengalami stunting sebesar 6,2 kali dibandingkan anak dengan berat badan lahir normal setelah dikontrol oleh variabel lain dalam model (AOR=6,202; 95% CI: 1,081–35,586). Berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui peningkatan status gizi ibu dan pencegahan kejadian berat badan lahir rendah.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth due to prolonged inadequate nutrient intake. Stunting among children under two years of age may be influenced by various factors, including child, maternal, caregiving, and environmental factors. Bali Province has the lowest prevalence of stunting in Indonesia; however, factors associated with stunting among children under two years of age in Bali still require further attention. This study aimed to determine the dominant factors associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). The study sample consisted of 549 children aged 0–23 months in Bali Province. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using complex logistic regression. The bivariate analysis showed that child factors, maternal factors, caregiving practices, and environmental factors were not significantly associated with stunting (p > 0.05). The multivariate analysis revealed that birth weight was the dominant factor associated with stunting. Children with low birth weight had a 6.2 times higher likelihood of experiencing stunting compared with children with normal birth weight after controlling for other variables in the model (AOR = 6.202; 95% CI: 1.081–35.586). Birth weight was identified as the dominant factor associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. Therefore, stunting prevention efforts should focus on the first 1,000 days of life through improving maternal nutritional status and preventing low birth weight.