Abstrak
Obesitas sentral adalah kondisi akumulasi lemak tubuh berlebih yang menjadi pemicu peningkatan risiko mortalitas berbagai penyakit degeneratif. Prevalensi obesitas sentral di Indonesia adalah sebesar 36,8%, sementara di Provinsi Sumatera Selatan angka kejadian obesitas sentral berdasarkan rasio lingkar perut terhadap tinggi badan mencapai 53,5%. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan gambaran analisis univariat, perbedaan proporsi antara obesitas sentral dengan variabel independen, dan faktor dominan kejadian obesitas sentral. Desain penelitian menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) dengan menganalisis data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 pada penduduk dewasa di Provinsi Sumatera Selatan. Faktor independen yang dianalisis meliputi karakteristik sosiodemografi, pola konsumsi pangan, gaya hidup, perilaku cek kesehatan berkala, dan status stres psikologis. Hasil analisis bivariat menunjukkan perbedaan proporsi yang signifikan secara statistik (P-value < 0,05) ditemukan pada variabel usia, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, status pekerjaan, status pernikahan, konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan aktivitas fisik. Selanjutnya, hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status pernikahan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kejadian obesitas sentral pada penduduk dewasa di Sumatera Selatan dengan nilai OR sebesar 2,531 (95% CI: 2,259-2,836) setelah dikontrol oleh variabel usia, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, status pekerjaan, status merokok, dan aktivitas fisik sedang. Pemangku kebijakan dapat mempertimbangkan pendekatan promosi kesehatan dari skala individu menjadi program intervensi berbasis keluarga, seperti mengintegrasikan manajemen berat badan terpadu bagi pasangan suami-istri di Posbindu PTM.
Central obesity is a condition of excessive body fat accumulation that triggers an increased risk of mortality from various degenerative diseases. The prevalence of central obesity in Indonesia stands at 36.8%, while in South Sumatra Province, the incidence of central obesity based on the waist-to-height ratio reaches 53.5%. This study aims to determine the univariate analysis profile, the differences in proportions between central obesity and independent variables, and the dominant factor of central obesity. The research design employed a cross-sectional study by analyzing secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) among the adult population in South Sumatra Province. The independent variables analyzed included sociodemographic characteristics, dietary patterns, lifestyle, routine health check-up behavior, and psychological stress status. The results of the bivariate analysis showed statistically significant differences in proportions (P-value < 0.05) across the variables of age, sex, residential area, employment status, marital status, sweet food consumption, sugary beverage consumption, smoking habits, alcohol consumption, and physical activity. Furthermore, the multivariate analysis results demonstrated that marital status was the most dominant factor associated with the incidence of central obesity among adults in South Sumatra, with an OR value of 2.531 (95% CI: 2.259–2.836) after controlling for age, sex, residential area, employment status, smoking status, and moderate physical activity. Policy makers can consider shifting the health promotion approach from an individual scale to a family-based intervention program, such as integrating integrated weight management for married couples within the Non-Communicable Diseases Community-Based Health Post (Posbindu PTM).