Abstrak
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih ditemukan pada berbagai kelompok usia, termasuk anak usia 5–14 tahun. Kelompok usia ini perlu diperhatikan karena berada pada masa pertumbuhan, peningkatan aktivitas, dan awal perubahan fisiologis yang dapat memengaruhi kebutuhan zat gizi pembentuk hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian anemia pada seluruh kelompok usia berdasarkan wilayah tempat tinggal, serta faktor dominan yang berhubungan dengan anemia pada anak usia 5–14 tahun di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Sampel analisis seluruh kelompok usia berjumlah 36.057 responden, sedangkan sampel subanalisis anak usia 5–14 tahun berjumlah 4.089 responden. Variabel dependen adalah status anemia berdasarkan kadar hemoglobin, sedangkan variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, konsumsi daging, unggas, dan hasil olahannya, konsumsi ikan, kerang, udang, dan hasil olahannya, konsumsi telur dan hasil olahannya, konsumsi sayur, konsumsi buah, riwayat malaria, kepemilikan jamban sehat, pendidikan ibu, dan pekerjaan ayah. Analisis data dilakukan dengan memperhitungkan desain sampel kompleks, meliputi analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada seluruh kelompok usia di Indonesia sebesar 17,0%, dengan prevalensi lebih tinggi di perdesaan (17,6%) dibandingkan perkotaan (16,6%). Pada anak usia 5–14 tahun, prevalensi anemia sebesar 16,3%, dengan prevalensi lebih tinggi di perdesaan (17,5%) dibandingkan perkotaan (15,5%). Pada wilayah perkotaan, hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang berhubungan signifikan dengan anemia adalah usia, konsumsi ikan, kerang, udang, dan hasil olahannya, serta kepemilikan jamban sehat. Faktor dominan adalah usia, yaitu anak usia 5–9 tahun memiliki odds anemia 1,630 kali dibandingkan anak usia 10–14 tahun (p=0,018) setelah dikontrol oleh konsumsi ikan dan kepemilikan jamban sehat. Anak dengan jamban tidak memadai memiliki odds anemia 1,505 kali dibandingkan anak dengan jamban memadai (p=0,022). Pada wilayah perdesaan, hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang berhubungan signifikan dengan anemia adalah usia, konsumsi ikan, kerang, udang, dan hasil olahannya, serta konsumsi telur dan hasil olahannya. Faktor dominan adalah konsumsi telur dan hasil olahannya, yaitu anak dengan konsumsi telur
Anemia remains a public health problem across various age groups, including children aged 5–14 years. This age group requires attention because children are still experiencing growth, increasing activity, and early physiological changes that may influence the need for nutrients involved in hemoglobin formation. This study aimed to describe anemia prevalence across all age groups by place of residence and to identify the dominant factors associated with anemia among children aged 5–14 years in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This was a quantitative study with a cross-sectional design using secondary data from SKI 2023. The analytical sample for all age groups included 36,057 respondents, while the subanalysis among children aged 5–14 years included 4,089 respondents. The dependent variable was anemia status based on hemoglobin level, while the independent variables included age, sex, consumption of meat, poultry, and processed products, consumption of fish, shellfish, shrimp, and processed products, consumption of eggs and processed products, vegetable consumption, fruit consumption, history of malaria, ownership of healthy latrine, maternal education, and paternal employment. Data analysis accounted for the complex sample design and included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using logistic regression. The results showed that the prevalence of anemia across all age groups in Indonesia was 17.0%, with a higher prevalence in rural areas (17.6%) than in urban areas (16.6%). Among children aged 5–14 years, the prevalence of anemia was 16.3%, with a higher prevalence in rural areas (17.5%) than in urban areas (15.5%). In urban areas, multivariate analysis showed that variables significantly associated with anemia were age, consumption of fish, shellfish, shrimp and processed products, and ownership of healthy latrine. The dominant factor was age, with children aged 5–9 years having 1.630 times higher odds of anemia than children aged 10–14 years (p=0.018) after controlling for fish consumption and latrine ownership. Children without adequate latrines had 1.505 times higher odds of anemia (p=0.022). In rural areas, multivariate analysis showed that variables significantly associated with anemia were age, consumption of fish, shellfish, shrimp and processed products, and consumption of eggs and processed products. The dominant factor was egg consumption, with children consuming eggs