Abstrak
Malnutrisi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama pada balita di Indonesia meskipun berbagai intervensi gizi, termasuk Program Pemberian Makanan Tambahan Lokal (PMT Lokal), telah dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perbaikan status gizi balita usia 6–59 bulan penerima PMT Lokal pada puskesmas terpilih di Kota Depok tahun 2026. Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional) dilakukan pada 104 balita yang dipilih menggunakan metode total sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, recall konsumsi pangan 24 jam, penilaian keberagaman pangan, kuesioner ketahanan pangan rumah tangga, dan lembar observasi. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan uji perbandingan berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan pada indikator status gizi setelah pelaksanaan PMT Lokal. Rata-rata berat badan meningkat dari 12,3 ± 2,471 kg menjadi 12,7 ± 2,549 kg (p<0,001), rata-rata tinggi badan meningkat dari 89,8 ± 9,999 cm menjadi 90,8 ± 10,279 cm (p<0,001), rata-rata z-score BB/U meningkat dari -0,92 ± 0,630 menjadi -0,74 ± 0,706 (p<0,001), rata-rata z-score PB/U atau TB/U meningkat dari -1,14 ± 0,881 menjadi -0,98 ± 1,038 (p=0,003), serta rata-rata z-score BB/PB atau BB/TB meningkat dari -0,45 ± 0,663 menjadi -0,30 ± 0,836 (p=0,001). Secara keseluruhan, sebanyak 76,0% balita mencapai perbaikan status gizi. Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat kunjungan posyandu dengan perbaikan status gizi (p=0,042; OR=3,095; 95% CI: 1,154–8,303), serta antara riwayat pneumonia dan/atau tuberkulosis dengan perbaikan status gizi (p=0,029; OR=0,136; 95% CI: 0,023–0,796). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara perbaikan status gizi dengan karakteristik pelaksanaan PMT, daya terima PMT, asupan makan, keberagaman pangan, karakteristik dan pengetahuan pengasuh, status imunisasi, diare, ISPA, ketahanan pangan rumah tangga, maupun perilaku hidup bersih dan sehat. Penguatan partisipasi posyandu serta pencegahan penyakit infeksi berpotensi meningkatkan efektivitas PMT Lokal dalam memperbaiki status gizi balita.

Malnutrition remains a major public health problem among children under five in Indonesia, despite the implementation of various nutrition interventions, including the Local Supplementary Feeding Program (Pemberian Makanan Tambahan Lokal/PMT Lokal). This study aimed to analyze factors associated with nutritional status improvement among children aged 6–59 months receiving PMT Lokal at selected public health centers in Depok City in 2026. A quantitative study with a cross-sectional design was conducted among 104 children selected through total sampling. Data were collected through anthropometric measurements, interviews using structured questionnaires, 24-hour food recall, food diversity assessment, household food security questionnaires, and observation sheets. Data were analyzed using univariate, bivariate, and paired comparison analyses. The results showed significant improvements in nutritional indicators following the PMT Lokal program. Mean body weight increased from 12.3 ± 2.471 kg to 12.7 ± 2.549 kg (p<0.001), mean height increased from 89.8 ± 9.999 cm to 90.8 ± 10.279 cm (p<0.001), mean weight-for-age z-score improved from -0.92 ± 0.630 to -0.74 ± 0.706 (p<0.001), mean height-for-age z-score improved from -1.14 ± 0.881 to -0.98 ± 1.038 (p=0.003), and mean weight-for-height z-score improved from -0.45 ± 0.663 to -0.30 ± 0.836 (p=0.001). Overall, 76.0% of children achieved nutritional status improvement. Significant associations were found between routine attendance at integrated health posts (posyandu) and nutritional status improvement (p=0.042; OR=3.095; 95% CI: 1.154–8.303), as well as between a history of pneumonia and/or tuberculosis and nutritional status improvement (p=0.029; OR=0.136; 95% CI: 0.023–0.796). No significant associations were observed between nutritional status improvement and PMT implementation characteristics, acceptability, dietary intake, food diversity, caregiver characteristics and knowledge, immunization status, diarrhea, acute respiratory infections, household food security, or clean and healthy living behaviors. Strengthening posyandu participation and preventing infectious diseases may enhance the effectiveness of PMT Lokal in improving child nutritional status.