Abstrak
Stres kerja merupakan salah satu masalah psikososial yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja, keselamatan kerja, dan produktivitas perusahaan. Pelaut memiliki risiko tinggi mengalami stres kerja karena karakteristik pekerjaan yang mengharuskan bekerja dan tinggal di atas kapal dalam waktu lama, sistem kerja bergilir, serta keterbatasan komunikasi dengan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan stres kerja pada pelaut di PT. X. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Smith (2000) untuk mengukur stres kerja serta kombinasi Work Stressor Questionnaire-AIPM dan COPSOQ III untuk mengukur faktor risiko. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, tingkat pendidikan, status perkawinan, jabatan, masa kerja, status kepegawaian, status merokok, beban kerja berlebih, kejenuhan terkait pekerjaan, tuntutan pekerjaan, hubungan interpersonal, keamanan pekerjaan, dan keseimbangan kehidupan kerja berhubungan signifikan dengan stres kerja. Pada analisis multivariat, faktor yang tetap berhubungan secara signifikan adalah usia <34 tahun (OR=77,49; 95%CI: 5,578–1076,642), tingkat pendidikan <S1 (OR=605,83; 95%CI: 7,626–48129,244), status perkawinan kawin (OR=67,53; 95%CI: 4,900–930,594), kejenuhan terkait pekerjaan (OR=22,42; 95%CI: 2,615–192,334), hubungan interpersonal yang bermasalah (OR=109,17; 95%CI: 9,345–1275,540), dan keseimbangan kehidupan kerja yang buruk (OR=26,70; 95%CI: 2,042–349,319). Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor individu, psikososial, dan organisasi berperan terhadap terjadinya stres kerja pada pelaut. Hubungan interpersonal merupakan faktor organisasi yang paling dominan, sedangkan tingkat pendidikan menunjukkan nilai OR terbesar meskipun memiliki rentang confidence interval yang sangat lebar. Perusahaan perlu mengembangkan program pengelolaan stres melalui peningkatan kualitas hubungan interpersonal, pengendalian kejenuhan kerja, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja untuk meningkatkan kesehatan mental dan produktivitas pelaut.

Work-related stress is one of the major psychosocial problems that can adversely affect workers' health, occupational safety, and organizational productivity. Seafarers are particularly vulnerable to work-related stress due to prolonged periods onboard, shift work, limited communication with family members, and demanding operational responsibilities. This study aimed to analyze the risk factors associated with work-related stress among seafarers at PT. X. This study employed a quantitative cross-sectional design. Data were collected using the Smith (2000) Work Stress Questionnaire to assess work-related stress and a combination of the Work Stressor Questionnaire-AIPM and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire III (COPSOQ III) to measure psychosocial and organizational risk factors. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate binary logistic regression analyses with a 95% confidence level. The bivariate analysis showed that age, educational level, marital status, job position, length of service, employment status, smoking status, work overload, job-related boredom, job demands, interpersonal relationships, job security, and work-life balance were significantly associated with work-related stress. Multivariate analysis revealed that age <34 years (OR=77.49; 95% CI: 5.578–1076.642), educational level below a bachelor's degree (OR=605.83; 95% CI: 7.626–48129.244), married marital status (OR=67.53; 95% CI: 4.900–930.594), job-related boredom (OR=22.42; 95% CI: 2.615–192.334), poor interpersonal relationships (OR=109.17; 95% CI: 9.345– 1275.540), and poor work-life balance (OR=26.70; 95% CI: 2.042–349.319) remained significantly associated with work-related stress after adjustment for potential confounding variables. This study concludes that individual, psychosocial, and organizational factors contribute to work-related stress among seafarers. Poor interpersonal relationships were identified as the most influential organizational factor, while educational level demonstrated the highest odds ratio, although its wide confidence interval indicates limited precision of the estimate. Shipping companies should implement comprehensive stress management programs by improving interpersonal relationships, reducing job-related boredom, and promoting work-life balance to enhance seafarers' mental well-being and productivity. Keywords: work-related stress; seafarers; individual factors; psychosocial factors; organizational factors