Abstrak
Minimum Dietary Diversity (MDD) merupakan indikator penting kualitas pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang mencerminkan kucukupan keragaman konsumsi pangan anak usia 6–23 bulan. Capaian MDD di Indonesia masih rendah, sementara determinannya belum banyak dianalisis dengan mempertimbangkan pengaruh faktor individu dan konteks wilayah secara simultan. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang melibatkan 70.561 anak usia 6–23 bulan dari 412 kabupaten/kota. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dua tingkat untuk mengidentifikasi determinan MDD pada tingkat individu dan kabupaten/kota. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 48,3% anak memenuhi MDD. Faktor tingkat individu yang berhubungan dengan pemenuhan MDD meliputi usia anak, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, status sosial ekonomi rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga, dan pemanfaatan layanan kesehatan anak. Sekitar 13,0% variasi pemenuhan MDD dijelaskan oleh perbedaan antar kabupaten/kota. Pada tingkat wilayah, indikator ketahanan pangan yang mencerminkan dimensi ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan berhubungan signifikan dengan pemenuhan MDD. Temuan ini menegaskan bahwa pemenuhan MDD pada anak usia 6–23 bulan di Indonesia dipengaruhi oleh faktor individu serta faktor kontekstual wilayah. Peningkatan capaian MDD memerlukan penguatan intervensi gizi spesifik dan sensitif melalui pendekatan multisektor yang mempertimbangkan karakteristik wilayah.

Minimum Dietary Diversity (MDD) is a key indicator of the quality of complementary feeding practices that reflects the adequacy of dietary diversity among children aged 6–23 months. The achievement of MDD in Indonesia remains low, while its determinants have rarely been examined by simultaneously considering individual- and area-level contextual factors. This study employed a cross-sectional design using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (Survei Status Gizi Indonesia/SSGI), involving 70,561 children aged 6–23 months from 412 districts/municipalities. Data were analyzed using a two-level multilevel logistic regression model to identify the determinants of MDD at the individual and district/municipality levels. The results showed that 48.3% of children met the MDD criteria. At the individual level, MDD was significantly associated with the child's age, maternal age, maternal education, maternal employment status, household socioeconomic status, household size, and utilization of child health services. Approximately 13.0% of the variation in MDD was attributable to differences between districts/municipalities. At the area level, food security indicators representing the dimensions of food availability, food accessibility, and food utilization were significantly associated with MDD. These findings indicate that MDD among Indonesian children aged 6–23 months is influenced by both individual characteristics and area-level contextual factors. Improving MDD requires strengthening nutrition-specific and nutrition-sensitive interventions through a multisectoral approach that takes regional characteristics into account.