Abstrak
Sick Building Syndrome (SBS) adalah sekelompok gejala nonspesifik yang dialami oleh pekerja di suatu gedung yang disebabkan oleh kualitas udara dalam ruang yang buruk. Gejalanya cenderung meningkat seiring lamanya waktu individu berada di dalam gedung dan membaik atau menghilang ketika meninggalkan gedung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan PM2,5, PM10, dan angka kuman di udara dalam ruang dengan kejadian SBS pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gedung Dinas Kesehatan Kota Bekasi tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 85 ASN. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Mei 2026 melalui kuesioner standar MM-040-NA serta pengukuran kualitas udara dalam ruang lingkungan kerja. Pengukuran dilakukan 1 kali pada jam 09.00-11.00 hari senin, rabu, dan jumat. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PM2,5 (OR=3,241), suhu (OR=4,571), pencahayaan (OR=3,330), dan riwayat penyakit (OR=3,603) dengan kejadian SBS. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa riwayat penyakit merupakan satu-satunya variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian SBS (OR=4,143) setelah dikontrol oleh  PM2,5, PM10, suhu, pencahayaan, dan faktor psikososial. Upaya pencegahan SBS perlu difokuskan pada perbaikan kualitas lingkungan kerja sekaligus memperhatikan kondisi kesehatan ASN melalui pemantauan kesehatan berkala, khususnya pada ASN yang memiliki riwayat penyakit.

Sick Building Syndrome (SBS) is a group of non-specific symptoms experienced by workers in a building due to poor indoor air quality. The symptoms tend to worsen with prolonged occupancy and improve or disappear after leaving the building. This study aimed to analyze the relationship between indoor PM2.5, PM10, air germ counts, and the occurrence of SBS among Civil Servants (ASN) working at the Bekasi City Health Office Building in 2026. This study employed a cross-sectional design with a sample of 85 ASN. Data collection was conducted in May 2026 using the MM-040-NA standard questionnaire and indoor workplace air quality measurements. Measurements were conducted once during 09:00–11:00 AM on Monday, Wednesday, and Friday. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between PM2.5 (OR=3.241), temperature (OR=4.571), lighting (OR=3.330), medical history (OR=3.603), and the occurrence of SBS. Multivariate analysis revealed that medical history was the only variable significantly associated with SBS (OR=4.143) after being controlled by PM2.5, PM10, temperature, lighting, and psychosocial factors. Therefore, SBS prevention efforts should focus on improving workplace environmental quality and conducting regular health monitoring, particularly for employees with a medical history.