Abstrak
Stunting pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat prioritas di Indonesia. Meskipun prevalensi stunting nasional menunjukkan tren penurunan, variasi prevalensi antarwilayah di Pulau Jawa masih cukup tinggi, dengan rentang 6,70%–32,40%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hubungan faktor wilayah dengan prevalensi stunting tidak bersifat seragam antarwilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi spasial hubungan faktor wilayah dengan prevalensi stunting pada balita antar kabupaten/kota di Pulau Jawa tahun 2024 menggunakan pendekatan Geographically Weighted Regression (GWR). Penelitian ini merupakan studi ekologi menggunakan data sekunder tahun 2024 pada 119 kabupaten/kota di Pulau Jawa. Variabel dependen adalah prevalensi stunting pada balita, sedangkan variabel independen meliputi faktor sosial ekonomi, kesehatan ibu-anak dan pelayanan kesehatan, serta lingkungan dan kualitas pangan. Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda (Ordinary Least Squares/OLS), Moran’s I, dan GWR dengan kernel adaptive Gaussian. Hasil penelitian menunjukkan adanya autokorelasi spasial yang signifikan pada prevalensi stunting (Moran's I = 0,319; p < 0,001), dengan klaster high-high dan low-low yang mengelompok pada wilayah tertentu di Pulau Jawa. Variabel rata-rata lama sekolah (RLS), usia kehamilan, kepemilikan jaminan kesehatan, akses sanitasi layak, dan akses sumber air minum layak menunjukkan hubungan signifikan pada beberapa wilayah dengan pola dan kekuatan hubungan yang bervariasi antar kabupaten/kota. Beberapa variabel menunjukkan arah hubungan yang tidak selalu sesuai dengan teori, yang kemungkinan berkaitan dengan faktor kontekstual wilayah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan faktor wilayah dengan prevalensi stunting pada balita di Pulau Jawa bersifat heterogen secara spasial, sehingga intervensi penanggulangan stunting perlu mempertimbangkan karakteristik lokal masing-masing wilayah agar lebih tepat sasaran.
Stunting in toddlers remains a priority public health issue in Indonesia. Although the national prevalence of stunting shows a declining trend, the variation in prevalence between regions on the island of Java remains quite high, ranging from 6.70% to 32.40%. This condition indicates that the relationship between regional factors and the prevalence of stunting is not uniform across regions. This study aims to analyze the spatial variation of the relationship between regional factors and the prevalence of stunting in toddlers across districts/cities in Java Island in 2024 using the Geographically Weighted Regression (GWR). This research is an ecological study using secondary data from 2024 on 119 districts/cities in Java Island. The dependent variable is the prevalence of stunting in toddlers, while the independent variables include socio-economic factors, maternal and child health and healthcare services, as well as environmental and food quality factors. The analysis was conducted using multiple linear regression (Ordinary Least Squares/OLS), Moran’s I, and GWR with an adaptive Gaussian kernel. The research results indicate a significant spatial autocorrelation in stunting prevalence (Moran's I = 0.319; p < 0.001), with high-high and low-low clusters concentrated in certain areas of Java Island. The variables of average years of schooling (RLS), pregnancy age, health insurance ownership, access to proper sanitation, and access to safe drinking water show significant relationships in several regions, with varying patterns and strengths of relationships across districts/cities. Some variables show a direction of relationship that does not always align with theory, which may be related to contextual factors of the region. This study concludes that the relationship between regional factors and the prevalence of stunting in toddlers on the island of Java is spatially heterogeneous, so stunting intervention efforts need to consider the local characteristics of each region to be more targeted.