Abstrak
Perilaku mengemudi berisiko merupakan salah satu faktor utama penyebab kecelakaan lalu lintas, terutama pada pengemudi transportasi umum yang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan penumpang dalam jumlah besar. Pada periode libur Idul Fitri, peningkatan mobilitas masyarakat dan kepadatan lalu lintas berpotensi meningkatkan tekanan kerja, distres psikologis, serta mempengaruhi perilaku pengemudi. Faktor psikologis dan kondisi kesehatan pengemudi diperkirakan berperan terhadap munculnya perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku mengemudi berisiko pada pengemudi bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan selama periode libur Idul Fitri tahun 2026. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif pada 97 pengemudi bus AKAP. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai faktor sosiodemografi, distres (aggresif, ketidaksukaan mengemudi, pemantauan bahaya, dan pencarian sensasi), kesehatan fisik, serta perilaku mengemudi berisiko berdasarkan dimensi pelanggaran, kesalahan dan kelalaian. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia ≥40 tahun (67%), memiliki masa kerja ≥10 tahun (58,8%), mengalami agresivitas tinggi (54,6%), serta dinyatakan laik mengemudi (77,3%). Perilaku mengemudi berisiko tinggi ditemukan pada dimensi pelanggaran sebesar 21,6%, kesalahan sebesar 7,2%, dan kelalaian sebesar 6,2%. Faktor psikologis menunjukkan hubungan bermakna terhadap perilaku mengemudi berisiko, terutama aggresif (OR=24,03; 95%CI=3,06–186,54; p=0,001), ketidaksukaan mengemudi (RR=2,818; 95%CI=1,753–4,530; p=0,001), dan mencari sensasi berkendara (OR=29,77; 95%CI=3,785–234,11; p=0,001). Variabel pemantauan bahaya tidak menunjukkan hubungan bermakna (p=0,054). Faktor kesehatan fisik dan status laik mengemudi tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan perilaku mengemudi berisiko (p>0,05). Disimpulkan bahwa faktor distress memiliki kontribusi lebih besar terhadap perilaku mengemudi berisiko dibandingkan faktor kesehatan fisik dan sosiodemografi pada pengemudi bus AKAP. Intervensi berupa skrining psikologis berkala, manajemen stres kerja, pelatihan keselamatan berkendara, dan penguatan program kesehatan kerja perlu dikembangkan untuk menurunkan risiko kecelakaan lalu lintas pada pengemudi transportasi umum. Kata kunci: perilaku mengemudi berisiko, pengemudi bus AKAP, distres psikologis, keselamatan berkendara, kesehatan kerja

Risky driving behavior is one of the major contributing factors to traffic accidents, particularly among public transportation drivers who bear responsibility for the safety of a large number of passengers. During the Eid al-Fitr holiday period, increased population mobility and traffic congestion may intensify work-related pressure, psychological distress, and consequently influence drivers’ behavior. Psychological factors and drivers’ physical health conditions are considered to contribute to the occurrence of risky driving behavior among intercity and interprovincial (AKAP) bus drivers. This study aimed to analyze factors associated with risky driving behavior among AKAP bus drivers at Kampung Rambutan Terminal during the 2026 Eid al-Fitr holiday period. A cross-sectional study with a quantitative approach was conducted among 97 AKAP bus drivers. Data were collected using questionnaires to assess sociodemographic factors, psychological distress (aggression, dislike of driving, hazard monitoring, and thrill seeking), physical health conditions, and risky driving behavior based on the dimensions of violations, errors and lapses. Data analysis was conducted using univariate and bivariate analyses through Chi-square and Fisher Exact tests. The results showed that the majority of respondents were aged ≥40 years (67%), had work experience of ≥10 years (58.8%), experienced high levels of aggression (54.6%), and were considered fit to drive (77.3%). High-risk driving behavior was found in the violations dimension (21.6%), , errors (7.2%), and lapses (6.2%). Psychological factors demonstrated significant associations with risky driving behavior, particularly aggression (OR=24.03; 95% CI=3.06–186.54; p=0.001), dislike of driving (RR=2.818; 95% CI=1.753–4.530; p=0.001), and thrill seeking (OR=29.77; 95% CI=3.785–234.11; p=0.001). The hazard monitoring variable did not show a significant association (p=0.054). Physical health factors and driving fitness status also did not show significant associations with risky driving behavior (p>0.05). It can be concluded that psychological distress factors contribute more substantially to risky driving behavior than physical health and sociodemographic factors among AKAP bus drivers. Interventions such as periodic psychological screening, occupational stress management, road safety training, and strengthening occupational health programs should be developed to reduce the risk of traffic accidents among public transportation drivers. Keywords: risky driving behavior, AKAP bus drivers, psychological distress, road safety, occupational health